Koma.id | Jambi – Bentrokan antara kelompok Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dengan anggota TNI di kawasan perkebunan kelapa sawit PT SAL, Kabupaten Sarolangun, Jambi, viral di media sosial. Video memperlihatkan sejumlah tentara dikepung dan diserang puluhan warga dengan senjata tajam dan benda tumpul.
Komunitas Konservasi Indonesia (KKI Warsi) menyebut bentrokan bermula dari insiden perekaman menggunakan telepon seluler. Rombongan Orang Rimba yang sedang menjalani tradisi melangun berpapasan dengan enam anggota TNI dan seorang pengemudi.
Menurut Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, rombongan berusaha menghindar, tetapi tetap dibuntuti dan direkam. Seorang remaja menegur agar perekaman dihentikan. Setelah ponsel diserahkan, remaja itu spontan membuangnya ke semak-semak. Tindakan tersebut memicu kemarahan aparat hingga terjadi pemukulan.
Anggota rombongan lain yang berusaha melindungi remaja ikut menjadi sasaran. Seorang remaja kemudian melarikan diri dan mengadu kepada keluarga. Jumlah Orang Rimba di lokasi bertambah, sebagian berusaha melerai, sebagian lainnya melakukan aksi balasan. Situasi memanas hingga terjadi pemukulan terhadap aparat.
Polda Jambi memberikan keterangan berbeda. Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji, menyebut peristiwa terjadi Jumat 28 Agustus 2026 sekitar pukul 11.30 WIB. Menurutnya, bentrokan bermula ketika kelompok masyarakat pedalaman membawa tandan buah segar (TBS) sawit dari area inti perusahaan PT SAL.
Anggota TNI menegur dan meminta TBS ditinggalkan, namun kelompok tersebut menolak. Cekcok berlanjut hingga terjadi keributan dan penyerangan terhadap aparat, sebagaimana terekam dalam video yang beredar.
Sebanyak 14 Orang Rimba dibawa ke Polres Sarolangun untuk diperiksa. Hingga kini belum ada kejelasan mengenai status hukum mereka. KKI Warsi menilai penanganan harus dilakukan secara proporsional dan transparan, dengan tetap menghormati hak Orang Rimba.
“Situasi Orang Rimba sangat rentan dan butuh kehati-hatian dalam penanganan pasca kejadian kekerasan,” kata Adi. Ia menambahkan, sebagian anggota kelompok berpencar dan melarikan diri karena khawatir kembali berhadapan dengan aparat.
Komandan Korem 042/Garuda Putih, Brigjen TNI Nyamin, menegaskan para tumenggung akan menyerahkan pelaku pengeroyokan ke proses hukum, bukan ke TNI.
Warsi menjelaskan, rombongan Orang Rimba saat itu sedang menjalani tradisi melangun setelah seorang tetua adat meninggal dunia. Tradisi ini merupakan bagian dari proses sosial mereka dalam menghadapi kematian. Dalam adat Orang Rimba, pengambilan foto atau video tanpa izin, terutama terhadap anak-anak dan remaja, dianggap tidak pantas.









