Koma.id – Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta mengungkapkan politik identitas ekstrem salah satunya adalah merendahkan martabat manusia dan menakut-nakuti.
Penegasan ini diungkapkan Stanislaus Riyanta dalam diskusi ‘Virus Intoleran, Radikal, Polarisasi Ancaman Persatuan’ di Hotel Bintang Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (3/8/2022).
“Yang salah adalah saat politik identitas digunakan dengan cara ekstrem sehingga merendahkan martabat manusia sehingga orang yang meninggal pun ditakut-takuti,” katanya.
Dia menjelaskan, fenomena politik identitas merupakan keprihatinan apalagi digunakan sebagai kepentingan politik sempit dalam mencapai tujuan politiknya.
“Memang ini menjadi keprihatianan saat orang menggunakan politik identitas, berarti parpol gagal, karena hanya bisa menggunakan identitasnya,” katanya.
“Kaderasisasi gagal kalau Parpol hanya meraup suara dari sesama identitasnya. Kalau berhasil indikasinya adalah saat bisa meruap dukungan secara keseluruhan
,” uangkapnya.
Stanislaus pun mengajak semua pihak dari berbagai elemen untuk turut serta mengawal proses demokrasi 2024 mendatang dengan cara-cara yang terhormat dan beradab.
“Mari beresama kawal proses demokrasi 2024 dengan cara yang tak merendahkan martabat manusia. Tujuan politik adalah untuk meninggikan kualitas hidup manusia. Mari hilangkan sekat-sekat yang mengarah ke politik identitas yang merendahkan martabat manusia,” tegasnya.
Ditegaskan Stanis, secara terminologi, radikalisme memiliki dua motif. Pertama motif politik dan kedua motif ideologi.
“Kita harus sepakat dulu bahwa terminologi radikalisme di sini adalah usaha yang keras, menggunakan kekerasan dia bermotif bisa politik bisa ideologi. Jadi radikal itu bermacam-macam. Dalam konteks diksusi ini kita batasi. Radikalisme menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan dengan politik dan agama.













