Koma.id- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 3,1 miliar anomali trafik di ruang siber Indonesia hingga Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, lebih dari 85 persen anomali yang terdeteksi berkaitan dengan malware atau perangkat lunak berbahaya.
Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Bondan Widiawan, menilai tingginya temuan malware tidak terlepas dari kebiasaan sebagian pengguna yang masih menggunakan perangkat lunak bajakan karena keterbatasan kemampuan membeli versi resmi.
“Kami lihat memang ternyata masih banyak ya pengguna-pengguna di Indonesia yang belum mampu membeli software yang resmi, kemudian memilih bajakan sehingga bonusnya adalah malware. Bisa saja yang bersangkutan tidak tahu kalau komputernya menyerang komputer lain,” kata Bondan dalam acara GRACS 2026 Digital Trust in Motion: Securing the Intelligent Ecosystem di Jakarta pada Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, perangkat yang terinfeksi malware berpotensi menjadi bagian dari botnet, yakni jaringan komputer atau perangkat yang telah dikuasai pihak lain untuk menjalankan aktivitas berbahaya. Kondisi ini memungkinkan perangkat milik pengguna tanpa disadari digunakan untuk menyerang sistem lain.
Selain ancaman malware, BSSN mengidentifikasi berbagai risiko di ruang digital, mulai dari disinformasi, misinformasi, berita palsu hingga penyalahgunaan teknologi deepfake. Berbagai ancaman tersebut dapat saling berhubungan dan berkembang menjadi serangan multifaktor yang lebih kompleks.
“Ini menjadi pekerjaan rumah ke depan,” katanya.
Bondan juga menyoroti masih adanya kasus akses tanpa izin atau unauthorized access serta kesalahan konfigurasi sistem yang dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber. Sebelum melancarkan serangan, pelaku umumnya melakukan pengintaian atau reconnaissance untuk memetakan kelemahan sistem yang menjadi sasaran.
Karena itu, menurut Bondan, keamanan tidak boleh hanya menjadi perhatian setelah serangan terjadi. Aspek perlindungan harus sudah diperhitungkan sejak tahap perancangan melalui pendekatan secure by design dan resilient by design, sehingga sistem dirancang agar aman sekaligus mampu bertahan dan pulih ketika menghadapi gangguan.
Ia menyebut kemampuan respons terhadap notifikasi insiden siber saat ini telah meningkat menjadi 40 persen, meskipun tidak merinci lebih lanjut indikator dan periode pengukurannya. Peningkatan tersebut, menurutnya, tetap perlu diikuti penguatan keamanan sejak awal untuk memperkecil peluang eksploitasi kerentanan.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut meningkatkan kompleksitas ancaman siber. Teknologi ini berpotensi membuat malware dan ransomware lebih adaptif serta mampu menghindari sistem pertahanan organisasi.
Bondan menilai karakter serangan yang semakin cepat, terukur, dan mampu menyesuaikan diri membuat metode pengamanan konvensional tidak lagi memadai jika digunakan tanpa pembaruan strategi.
“Jadi enggak mungkin lagi kita melakukan cara-cara lama untuk mengatasinya atau traditional method dengan cara lama itu sudah enggak relevan lagi dengan ancaman baru ini,” katanya.
Ancaman lain yang menjadi perhatian adalah phishing, khususnya spear phishing yang dirancang untuk menyasar individu atau organisasi tertentu. Berbeda dengan phishing yang menyebar secara luas, spear phishing memanfaatkan informasi mengenai target agar pesan yang dikirim terlihat lebih meyakinkan.
Bondan mencontohkan serangan yang menyasar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra pada 2020, yang dalam paparannya dikaitkan dengan Advanced Persistent Threat (APT) 29. Dalam skenario tersebut, pelaku menggunakan pesan yang seolah-olah berasal dari organisasi resmi untuk mendorong korban membuka atau mengeklik tautan berbahaya.
Ia mengingatkan masyarakat dan organisasi agar lebih cermat memeriksa keaslian email, identitas pengirim, serta struktur alamat surat elektronik sebelum membuka tautan atau menindaklanjuti pesan yang diterima.
Selain AI, BSSN juga menaruh perhatian pada perkembangan komputasi kuantum yang berpotensi mengubah lanskap keamanan enkripsi. Salah satu risiko yang diantisipasi adalah skenario harvest now, decrypt later, yakni ketika pelaku mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk mencoba membukanya pada masa mendatang, ketika kemampuan komputasi memungkinkan.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, organisasi perlu mempersiapkan peralihan menuju post-quantum cryptography (PQC), yaitu teknologi kriptografi yang dirancang agar lebih tahan terhadap ancaman komputasi kuantum. Migrasi ini membutuhkan perencanaan dan biaya sehingga tidak dapat dilakukan secara mendadak.
“Nah, ini ancaman quantum. Jadi, kita kumpulin aja harvest now decrypt later. Kita belum bisa jebol sekarang, kita kumpulin dulu data-data breach kita yang sudah ada ini semuanya, ya nanti suatu saat tinggal di di-crack. Itu seperti itu kira-kira,” katanya.








