Koma.id – Investasi sektor hilirisasi Indonesia mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut setara dengan 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp1.010,6 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional terus meningkat. Dalam dua tahun terakhir, porsinya naik dari sekitar 25 persen menjadi hampir 30 persen.
Hal tersebut disampaikan Rosan saat melaporkan realisasi investasi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam acara peletakan batu pertama dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai kendaraan listrik di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).
Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional pada semester I 2026 tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi tersebut juga menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia, meningkat sekitar 15 persen secara tahunan.
Dari total investasi nasional, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp502,9 triliun atau 49,8 persen.
Hilirisasi Mineral Masih Mendominasi
Investasi hilirisasi masih ditopang komoditas mineral, terutama bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika. Pemerintah mendorong pengolahan bahan mentah di dalam negeri agar menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Rosan menyebut terdapat pergeseran dalam komoditas yang mendominasi investasi hilirisasi. Jika sebelumnya nikel menjadi kontributor utama, pada semester I 2026 bauksit menempati posisi teratas seiring pembangunan sejumlah proyek pengolahan yang melibatkan investor dalam dan luar negeri.
Pemerintah juga berupaya memperluas hilirisasi ke sektor lain, termasuk produk turunan kelapa sawit, untuk memperkuat struktur industri nasional dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Investasi di Luar Jawa Melampaui Jawa
Hilirisasi turut menjadi salah satu pendorong pemerataan investasi ke luar Pulau Jawa. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi di luar Jawa pada semester I 2026 mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, investasi di Pulau Jawa mencapai Rp502,8 triliun atau 49,8 persen.
Maluku Utara menjadi salah satu contoh daerah yang mengalami perkembangan industri pengolahan mineral. Produk yang dihasilkan tidak lagi terbatas pada bijih mineral mentah, tetapi telah berkembang ke produk olahan seperti feronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nickel sulfate, hingga kobalt.
Perkembangan tersebut juga ditandai dengan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan industri Weda Bay, yang menjadi bagian dari penguatan rantai pasok industri kendaraan listrik.
Pemerintah berharap peningkatan investasi hilirisasi dapat memperkuat industri pengolahan dalam negeri, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Untuk menjaga momentum investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM juga mendorong penyederhanaan perizinan, penguatan ekosistem investasi, percepatan pembangunan kawasan industri, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada investor.








