Koma.id | Jakarta – Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekitar Rp100 triliun dapat menjadi daya ungkit investasi hingga Rp1.000 triliun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Menurut Dony, dividen yang diterima negara tidak akan dibiarkan mengendap, melainkan diputar kembali melalui Danantara Investment Management (DIM) untuk membiayai berbagai investasi produktif, termasuk proyek hilirisasi dan industrialisasi padat karya.
Polres Metro Jakarta Utara Musnahkan 9,9 Juta Butir Obat Keras Ilegal Senilai Rp15 Miliar
“Yang kita investasikan adalah dividennya, bukan perusahaannya dijadikan jaminan. Dengan skema ini, dividen Rp100 triliun bisa memiliki daya ungkit investasi berkali-kali lipat untuk membiayai proyek hilirisasi dan industrialisasi padat karya tanpa membebani fiskal negara,” kata Dony dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (08/10).
Dony menjelaskan, skema tersebut memungkinkan kemampuan pembayaran pemerintah menjadi instrumen pengungkit pembiayaan yang lebih besar melalui KPBU. Dengan kemampuan pembayaran sekitar Rp100 triliun, pemerintah dapat menjalankan investasi bernilai hingga Rp1.000 triliun melalui kontrak jangka panjang.
“Teman-teman bisa bayangkan kalau pemerintah hari ini memiliki kemampuan repayment Rp100 triliun, kalau dengan skema KPBU 10 tahun, artinya pemerintah bisa berinvestasi hari ini atau menjalankan program pemerintah senilai Rp1.000 triliun,” ujarnya.
Menurut dia, strategi pemanfaatan dividen sebagai sumber pembiayaan investasi merupakan bagian dari upaya Danantara memperkuat fundamental ekonomi nasional tanpa menambah tekanan terhadap anggaran negara.
“Pemerintah sedang melakukan percepatan-percepatan untuk menyiapkan ekonomi Indonesia yang lebih fundamental, menuju negara maju dan membawa kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia,” tutur Dony.
Di sisi lain, Danantara memproyeksikan laba konsolidasi BUMN mencapai sedikitnya Rp360 triliun pada 2026. Target tersebut didorong oleh transformasi dan perbaikan fundamental yang dilakukan di lingkungan perusahaan pelat merah.
Dony mengungkapkan, berdasarkan hasil audit Kantor Akuntan Publik Ernst & Young (EY) yang saat ini masih dalam pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), laba konsolidasi BUMN tercatat sekitar Rp326 triliun.
Namun, sebagian laba tersebut digunakan untuk melakukan pembersihan neraca keuangan, termasuk pencatatan penurunan nilai aset (impairment) dan koreksi terhadap pencatatan keuangan masa lalu.
“Sebagian besar laba kita pakai untuk melakukan koreksi terhadap buku sebelumnya, sehingga kita membukukan laba sekitar Rp276 triliun. Itu murni laba BUMN. Setelah proses pembersihan ini tuntas, kita harapkan pada 2026 laba kita naik menjadi Rp360 triliun,” tegasnya.
Untuk meningkatkan profitabilitas, Danantara juga melakukan perampingan portofolio BUMN. Jumlah anak dan cucu perusahaan yang sebelumnya mencapai 1.074 entitas dipangkas menjadi sekitar 200 perusahaan inti.
Menurut Dony, langkah tersebut dilakukan melalui penyederhanaan rantai pasok dan penghapusan berbagai sumber inefisiensi yang selama ini membebani operasional perusahaan.
Salah satu hasilnya terlihat pada sektor hilir Pertamina melalui integrasi Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan unit kilang lainnya yang disebut mampu menambah keuntungan hingga US$1 miliar atau sekitar Rp15 triliun hanya dalam enam bulan.
Selain itu, perubahan model bisnis di PT Pupuk Indonesia juga diklaim berhasil menekan harga pokok penjualan (HPP) dan meningkatkan margin laba hingga hampir 300 persen.
Dony menilai berbagai langkah transformasi tersebut akan menjadi motor pertumbuhan baru bagi BUMN sekaligus memperkuat kapasitas investasi nasional melalui Danantara.









