Koma.id, Lampung – Gelombang dukungan terhadap film sinema edukatif Ageman terus mengalir deras dari berbagai elemen masyarakat di Provinsi Lampung.
Kali ini, tanggapan hangat dan bentuk dukungan penuh datang dari Jaringan GUSDURian Lampung.
Koordinator GUSDURian Lampung, Yogi Prazani, menilai karya sinema Ageman bukan sekadar hiburan visual biasa, melainkan sebuah refleksi jernih yang memotret esensi terdalam dari pemikiran, perjuangan, serta warisan nilai-nilai K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), khususnya dalam konteks perawatan toleransi.
“Film ini secara berani dan jujur berhasil memotret bagaimana toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan di atas kertas, melainkan harus dihidupkan dalam laku sehari-hari, dalam ruang-ruang dialog yang setara, dan dalam pembelaan terhadap mereka yang terpinggirkan,” ujar Yogi Prazani, Minggu (27/9/2026).
Melihat kuatnya pesan kebangsaan dalam sinema tersebut, Yogi mengimbau seluruh komunitas penggerak, pecinta pemikiran Gus Dur, hingga masyarakat luas untuk mengapresiasi dan membedah pesan-pesan moral yang ada di dalam film Ageman.
Basarnas Desak Perusahaan KM Virgo Segera Angkat Bangkai Kapal untuk Mudahkan Evakuasi Korban
“Kami mengajak seluruh penggerak GUSDURIAN, pencinta pemikiran Gus Dur, serta seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk bersama-sama mengapresiasi, menonton, dan mendiskusikan film ini.
Mari kita jadikan karya ini sebagai pemantik ruang-ruang dialog yang inklusif di lingkungan kita masing-masing guna meneruskan perjuangan Gus Dur merawat Indonesia yang majemuk,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi jajaran tim produksi yang telah melahirkan karya inspiratif tersebut. “Semoga pesan-pesan perdamaian di dalamnya mampu mengetuk pintu hati kita semua untuk terus memanusiakan manusia,” tambahnya.
Sutradara Film Ageman, Jasper Lance, memaparkan bahwa alur cerita film ini diangkat dari kisah nyata perjalanan hidup Ken Setiawan seorang mantan aktivis gerakan radikal yang kini telah insyaf dan aktif menjabat sebagai Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Lampung guna mengampanyekan pencegahan intoleransi dan terorisme. Sementara itu,
Produser Eksekutif Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, menegaskan bahwa nilai-nilai inklusif yang diusung dalam film ini diproyeksikan mampu menjadi benteng moral bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan, tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.














