Koma.id, Lampung – Kerukunan dan moderasi beragama menjadi pesan utama yang diusung dalam film Ageman. Karya audio visual terbaru besutan talenta muda Lampung ini menghadirkan Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Lampung, Andi Lie Wirawan, S.H., sebagai salah satu pemeran tokoh agama Buddha.
Film Ageman disutradarai Jasper Lance Piscasio dan diproduseri Ken Setiawan
Film ini terinspirasi dari kisah nyata perjalanan transformasi Ken Setiawan mantan tokoh radikal yang kembali memeluk NKRI.
Purbaya Pastikan Dana Penanganan Abu Anak Krakatau Bisa Ditambah, BNPB Pegang Hampir Rp1 Triliun
Dalam alur cerita, Andi Lie beradu peran dengan dua pemeran utama, Aluna dan Zaskia, yang dikisahkan sedang mencari pencerahan dan jati diri di tengah ujian sikap intoleransi.
Di salah satu adegan kunci, Andi Lie menyampaikan pesan filosofis keagamaan tentang pentingnya menjaga kesucian batin dengan menjauhi kebencian antar-sesama manusia.
“Kita tidak boleh membenci dan memicu permusuhan antar-sesama manusia. Jika permusuhan, kemarahan, dan rasa dendam terus kita pendam, hal itu hanya akan mengotori batin kita sendiri,” tutur Andi Lie Wirawan.
Tokoh keagamaan yang aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung ini bergabung bersama deretan tokoh lintas agama, akademisi, serta pejabat publik Pemprov Lampung dalam jajaran pemeran.
Di antaranya hadir Pj. Ketua TP PKK Lampung Purnama Wulan Sari, Pj. Ketua DWP Lampung Agnesia Bulan Rurianti, hingga jajaran Kepala Dinas Pemprov Lampung seperti Thomas Amirico, Ganjar Jationo, Tony Ferdinansyah, dan Hanita Farial.
Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam film ini dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan, toleransi, dan saling menghargai di tengah keberagaman suku, budaya, serta agama.
Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.













