Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Kemenkes RI Sebut 3,3 Juta Lansia Terancam Dampak Abu Erupsi Anak Krakatau

×

Kemenkes RI Sebut 3,3 Juta Lansia Terancam Dampak Abu Erupsi Anak Krakatau

Sebarkan artikel ini
Kemenkes Terima 1540 Laporan Bullying PPDS Termasuk RS Milik Universitas
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (Foto/Istimewa)

Koma.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sekitar 3,3 juta lansia berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang erupsi di Selat Sunda.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan jumlah tersebut mencakup lansia di wilayah yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik, termasuk Lampung, Banten, serta wilayah pesisir DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurut Imran, jumlah lansia di Lampung mencapai lebih dari 1,1 juta jiwa, sedangkan di Banten sekitar 1,26 juta jiwa. Jika ditambah dengan lansia di wilayah pesisir DKI Jakarta dan Jawa Barat, total populasi yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 3,3 juta jiwa.

“Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit,” kata Imran.

Dia menjelaskan, abu vulkanik juga dapat mengeras seperti semen apabila bercampur dengan air. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati ketika membersihkan abu agar tidak justru menimbulkan risiko tambahan.

Bisa Picu ISPA hingga Stroke

Imran mengatakan kelompok lansia menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Paparan abu dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Pada lansia yang memiliki penyakit kronis, paparan tersebut juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, hingga stroke. Partikel abu yang sangat halus dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu peradangan.

Selain gangguan pernapasan dan kardiovaskular, abu vulkanik juga dapat menyebabkan mata perih, berair dan mudah mengalami iritasi. Kulit dapat mengalami gatal maupun peradangan.

Paparan dalam waktu lama juga berpotensi membuat lansia mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi. Sementara itu, proses evakuasi mendadak dan kondisi terisolasi akibat bencana dapat menambah tekanan psikologis berupa stres dan depresi.

Kemenkes Minta Lansia Dapat Perlindungan Ekstra

Karena itu, Kemenkes meminta mitigasi terhadap kelompok lansia dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat di wilayah terdampak disarankan menggunakan masker N95 atau KN95 serta kacamata pelindung ketika berada di area yang terpapar abu.

Rumah juga perlu ditutup rapat untuk mencegah abu masuk. Sementara ketika membersihkan abu, permukaannya dianjurkan dibasahi terlebih dahulu agar partikel tidak mudah beterbangan.

Keluarga maupun caregiver juga diminta memastikan persediaan obat rutin lansia tetap tersedia serta memantau tanda-tanda bahaya yang mungkin muncul.

Imran juga meminta fasilitas kesehatan di wilayah terdampak menyiapkan kebutuhan untuk menangani dampak paparan abu, mulai dari oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit hingga obat tetes mata.

Tenaga kesehatan juga perlu disiagakan untuk menghadapi kemungkinan evakuasi darurat dan lonjakan kebutuhan pelayanan kesehatan.

Cara Bersihkan Abu Vulkanik

Kemenkes mengingatkan pembersihan abu vulkanik di rumah tidak boleh dilakukan sembarangan.

Sebelum membersihkan, pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat. Kipas angin dan pendingin ruangan juga disarankan dimatikan agar partikel abu tidak kembali berputar di dalam rumah.

Permukaan yang tertutup abu dapat dibasahi menggunakan semprotan air ringan sebelum dibersihkan. Lantai dan perabotan dapat dibersihkan menggunakan kain pel basah atau vacuum cleaner dengan filter HEPA jika tersedia.

Abu yang telah dikumpulkan sebaiknya dimasukkan ke wadah tertutup dan tidak dibuang ke saluran air.

Saat membersihkan, masyarakat dianjurkan tetap menggunakan masker N95 atau KN95, kacamata pelindung, sarung tangan dan pakaian berlengan panjang. Anak-anak, lansia, serta penderita penyakit paru sebaiknya dijauhkan dari lokasi pembersihan karena lebih rentan terhadap paparan abu.

Imran menegaskan perlindungan terhadap lansia harus menjadi perhatian utama dalam mitigasi erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Dengan perlindungan individu, dukungan keluarga, dan kesiapan fasilitas kesehatan, risiko komplikasi dan mortalitas dapat ditekan, sehingga kelompok usia lanjut tetap terlindungi di tengah ancaman vulkanik yang terus berulang,” tandas Imran.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.