Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, Efek Erupsi Krakatau dan Sentimen Global Bikin Pasar Galau

×

IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, Efek Erupsi Krakatau dan Sentimen Global Bikin Pasar Galau

Sebarkan artikel ini
Img 20260515 Wa0010
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Koma.id / Andry Novelino)

Koma.id Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak sideways pada perdagangan Senin (7/9/2026), setelah pelaku pasar menghadapi tarik-menarik sentimen domestik dan global.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat menguat 15,61 poin atau 0,24 persen ke level 6.652,09. Namun, penguatan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko koreksi lanjutan.

Silakan gulirkan ke bawah

Salah satu sentimen domestik yang menjadi perhatian adalah erupsi Gunung Anak Krakatau. Dampak abu vulkanik sebelumnya telah mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah bandara dan berpotensi memengaruhi aktivitas transportasi, pariwisata, serta distribusi barang apabila gangguan berlangsung lebih lama.

IHSG Masih Rawan Terkoreksi

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan IHSG masih rentan mengalami koreksi.

“IHSG diperkirakan rentan koreksi lanjutan menuju support terdekat 6.595 atau 6.551 dan 6.525. Adapun jika mampu rebound IHSG potensi kembali ke resistance 6.681 atau 6.704 dan lanjut tutup area gap 6.723,” terang Liza di Jakarta.

Risiko tersebut juga tercermin dalam riset MNC Sekuritas. Dalam analisis teknikalnya, IHSG disebut berpotensi melanjutkan koreksi setelah pada perdagangan Jumat (4/9) melemah 0,47 persen ke level 6.636 dan disertai tekanan jual.

MNC Sekuritas memperkirakan IHSG memiliki area koreksi terdekat di 6.578-6.626. Adapun level support berada di 6.561 dan 6.476, sedangkan resistance berada di 6.705 dan 6.755.

Sentimen The Fed Masih Jadi Perhatian

Dari eksternal, investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih relatif kuat menjadi salah satu faktor yang membuat pasar berhati-hati dalam memperkirakan arah kebijakan moneter.

Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada bulan ini sedikit mereda setelah Gubernur The Fed Christopher Waller memberikan sinyal bahwa bank sentral dapat mempertimbangkan penahanan suku bunga apabila tekanan inflasi mulai terkendali.

Menurut Liza, perubahan ekspektasi tersebut memberikan dorongan terhadap aset berisiko di sejumlah pasar Asia.

Namun, investor masih harus memperhitungkan berbagai risiko geopolitik yang dapat memengaruhi pasar global.

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu perhatian karena berpotensi mengganggu rantai pasok global. Perang Rusia-Ukraina juga masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga komoditas dan tekanan inflasi dunia.

China Suntik Dana ke Sektor Keuangan

Sentimen positif datang dari China. Pemerintah Negeri Tirai Bambu dilaporkan menggelontorkan dana sekitar US$54 miliar untuk memperkuat sektor keuangan.

Dari jumlah tersebut, China Life Insurance mendapatkan suntikan sekitar 35 miliar yuan, sementara China Taiping Insurance memperoleh sekitar 7 miliar yuan.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang ikut diperhatikan investor di tengah upaya China menopang stabilitas sektor keuangannya.

Erupsi Anak Krakatau Jadi Risiko Domestik

Di dalam negeri, erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar.

Erupsi dan sebaran abu vulkanik telah mengganggu aktivitas penerbangan. Gangguan tersebut berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap sektor transportasi, pariwisata dan distribusi barang apabila kondisi erupsi berlangsung dalam waktu lebih panjang.

“Gangguan berpotensi menekan aktivitas transportasi, pariwisata, serta distribusi barang apabila erupsi dan dampak abu vulkanik berlangsung lebih lama,” kata Liza.

Meski demikian, dampak terhadap IHSG tidak berarti seluruh sektor akan mengalami tekanan yang sama. Investor masih akan melihat perkembangan aktivitas vulkanik, durasi gangguan penerbangan serta dampaknya terhadap kegiatan ekonomi.

Data Ekonomi Domestik Ditunggu

Selain erupsi Anak Krakatau, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi domestik.

Beberapa data yang menjadi perhatian antara lain cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 serta data penjualan ritel.

Data-data tersebut akan menjadi tambahan indikator bagi investor untuk melihat kondisi konsumsi dan stabilitas ekonomi domestik.

Pasar juga mencermati langkah pemerintah melakukan efisiensi terhadap perusahaan-perusahaan BUMN.

Pemerintah disebut telah menutup 290 BUMN dengan penghematan sekitar Rp50 triliun. Pemerintah juga menargetkan penataan lebih lanjut terhadap ratusan BUMN lainnya hingga akhir 2026.

Menurut Liza, langkah efisiensi dan hilirisasi tersebut berpotensi meningkatkan profitabilitas BUMN dalam jangka panjang.

Bursa Global Beragam

Pergerakan bursa global pada akhir pekan lalu juga memberikan gambaran sentimen yang beragam.

Di Wall Street, indeks utama ditutup melemah. S&P 500 turun 0,38 persen, Nasdaq terkoreksi 0,29 persen dan Dow Jones melemah 0,51 persen.

Sebaliknya, sejumlah bursa Eropa masih bergerak positif. Euro Stoxx 50 naik 0,16 persen dan DAX Jerman menguat 0,17 persen, sementara CAC 40 Prancis turun tipis 0,09 persen.

Di kawasan Asia pada Senin pagi, Nikkei menguat 2,28 persen dan Kospi melonjak 2,99 persen. Shanghai naik tipis 0,18 persen, sedangkan Hang Seng dan Straits Times bergerak di zona merah.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, investor diperkirakan masih mengambil sikap hati-hati. Pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada kemampuan indeks bertahan di area support sekaligus perkembangan sentimen global dan dampak erupsi Anak Krakatau terhadap aktivitas ekonomi.

Investor pun disarankan tidak terburu-buru melakukan aksi beli hanya karena IHSG sempat dibuka menguat, mengingat risiko koreksi masih terbuka.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.