Koma.id– Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menjelaskan perubahan desil kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak selalu mencerminkan perubahan kondisi ekonomi masyarakat.
Perubahan signifikan pada DTSEN Volume 3 dipengaruhi masuknya sekitar 12 juta data baru dari BKKBN yang sebelumnya belum diverifikasi dan divalidasi, sehingga pemerintah bersama BPS kini melakukan koreksi melalui DTSEN Volume 3.1 serta terus memutakhirkan data setiap tiga bulan. Pemerintah menegaskan perubahan desil tidak otomatis membuat seseorang dicoret dari bantuan sosial karena penetapan penerima tetap mempertimbangkan waktu penyaluran, kriteria masing-masing program dan ketersediaan kuota.
“Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran. Misalnya sekarang ini kan ada lonjakan-lonjakan data, itu tidak otomatis (bansos) hilang, karena kan kita belum menyalurkan. Sementara untuk PBI itu setiap bulan sekali,” jelas Gus Ipul.
Tenaga Ahli Menteri Sosial Andy Kurniawan juga menjelaskan desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan secara nasional, bukan ukuran langsung kaya-miskin atau besaran penghasilan, sehingga posisi desil seseorang dapat berubah meski kondisi ekonominya tetap. Desil digunakan terutama untuk menentukan prioritas ketika jumlah calon penerima lebih banyak dibandingkan kemampuan anggaran, sementara setiap program bansos memiliki persyaratan tersendiri.
Karena itu, kenaikan desil tidak otomatis berarti masyarakat semakin sejahtera atau kehilangan hak atas bantuan sosial, dan pemerintah menargetkan akurasi DTSEN terus membaik setelah proses verifikasi dan validasi data dilakukan.
“Seolah-olah kalau desil naik, sama dengan tambah kaya. Kalau tambah kaya, sama dengan bantuannya hilang. Itu sama sekali tidak benar. Dan kalau bantuannya hilang, persepsi masyarakat adalah bantuannya dicabut, uangnya dialihkan ke program yang lain. Itu tidak benar,” jelas Andy.








