Koma.id | Jakarta – Dewan Energi Nasional (DEN) menargetkan Indonesia menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan avtur pada 2026, disusul bensin pada 2028. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.
Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan berbagai aspek teknis, termasuk optimalisasi kapasitas kilang dalam negeri dan pemanfaatan energi nabati. “Kita ingin menuju kedaulatan energi. Caranya salah satunya menghentikan impor solar 2026, avtur akhir 2026, dan bensin RON 92, 95, 98 pada 2028,” ujarnya dikutip dari CNBC.
Target ini akan didukung melalui penerapan biodiesel untuk solar dan bioetanol untuk bensin. Pemerintah menekankan pentingnya kesiapan kilang agar mampu mengolah campuran biofuel tersebut.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut Indonesia menargetkan penghentian impor avtur pada 2027 seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Kilang tersebut diproyeksikan mampu memproduksi 5,8 juta kiloliter bensin per tahun dan menghemat devisa hingga Rp60 triliun.
Sementara itu, untuk solar, pemerintah menyiapkan penerapan biodiesel B40 hingga B50 berbasis sawit mulai 1 Juli 2026. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemanfaatan sawit tidak hanya untuk solar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bensin dan etanol sebagai energi masa depan.
Meski demikian, sejumlah pihak industri transportasi masih menyoroti aspek teknis penerapan B50, termasuk potensi biaya tambahan akibat penyimpanan dan distribusi bahan bakar nabati. Sekjen Organda Kurnia Lesani Adnan menekankan perlunya kesiapan SPBU dalam menghadapi risiko kondensasi dan penggumpalan materi nabati.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada energi, mengurangi ketergantungan pada impor BBM, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi pasar global.








