KOMA.ID, SIDOARJO – Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMAMASDA) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Seminar Nasional 2026 yang membahas dampak ketegangan geopolitik global terhadap perekonomian nasional serta kesiapan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja di era digital.
Kegiatan yang mengusung tema “Menavigasi Ketidakpastian Global di Era Ketegangan Geopolitik” tersebut berlangsung di Aula Lantai 4 Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (4/6/2026), dan diikuti ratusan mahasiswa serta akademisi.
Kasus Silmy Karim, KPK Ungkap Rekening Office Boy hingga Keluarga Dipakai Tampung Uang Pemerasan
Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, menegaskan bahwa mahasiswa perlu memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai perkembangan ekonomi global karena berbagai dinamika internasional kini memiliki dampak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional.
“Mahasiswa harus mampu membaca perubahan yang terjadi di tingkat global karena dampaknya bisa dirasakan hingga ke sektor ekonomi dalam negeri. Pemahaman ini penting agar generasi muda lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” kata Muhafidhah.
Geopolitik Global Pengaruhi Ekonomi Nasional
Pada sesi utama seminar, ekonom sekaligus peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, memaparkan berbagai risiko ekonomi yang muncul akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan dunia.
Menurut Dipo, kondisi global yang tidak stabil dapat memengaruhi berbagai indikator ekonomi nasional, mulai dari nilai tukar rupiah, inflasi, investasi, hingga kondisi ketenagakerjaan.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian global berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian domestik apabila tidak diantisipasi dengan baik.
“Pelemahan nilai tukar, risiko inflasi impor, hingga perlambatan investasi menjadi tantangan yang perlu dicermati. Karena itu, generasi muda harus memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat,” ujarnya.
Dipo menambahkan bahwa peningkatan kompetensi, literasi keuangan, serta kemampuan membaca perubahan pasar menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar tetap mampu bersaing di tengah dinamika ekonomi yang bergerak cepat.
Personal Branding Jadi Kebutuhan Baru
Selain membahas ekonomi global, seminar juga mengangkat tema kesiapan karier di era digital melalui pemaparan dosen Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Edita Rachma Kamila.
Dalam materinya, Edita menekankan pentingnya membangun identitas digital dan personal branding sebagai salah satu modal utama memasuki dunia kerja modern.
Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya menilai kemampuan akademik calon pekerja, tetapi juga memperhatikan jejak digital, profesionalisme, serta kemampuan membangun reputasi positif.
“Personal branding adalah cara seseorang memperkenalkan kompetensi, karakter, dan nilai dirinya secara profesional kepada publik. Ini menjadi salah satu faktor yang semakin diperhatikan dalam proses rekrutmen kerja,” jelas Edita.
Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan berbagai platform digital secara produktif untuk membangun portofolio dan meningkatkan daya saing di pasar kerja.
Bekal Hadapi Ketidakpastian
Ketua Program Studi Manajemen UNUSIDA, M. Mustaqim, mengapresiasi antusiasme peserta yang aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab sepanjang seminar berlangsung.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai tantangan global sekaligus kebutuhan dunia kerja masa depan.
Berbagai isu mulai dari kondisi ekonomi dunia, peluang kerja, transformasi digital, hingga strategi pengembangan diri menjadi topik yang mendapat perhatian besar dari para peserta.
Melalui Seminar Nasional 2026 tersebut, HIMAMASDA UNUSIDA berharap mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman akademik yang kuat, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan adaptif yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi yang terus berkembang.
“Kami ingin mahasiswa lebih siap menghadapi ketidakpastian global, memahami tantangan ekonomi yang sedang terjadi, sekaligus mampu memanfaatkan peluang yang muncul di era digital,” ujar Mustaqim.








