Koma.id | Jakarta – PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah produk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai hari ini. Kenaikan signifikan terjadi pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara harga Pertamax dan Pertamax Green tetap stabil.
Di Jakarta, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp19.400 per liter, naik Rp6.300 dari harga awal April yang masih Rp13.100. Untuk varian diesel, Dexlite melonjak menjadi Rp23.600 per liter dari Rp14.200, sedangkan Pertamina Dex naik ke Rp23.900 per liter dari Rp14.500. Adapun BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan harga.
Anggota Komisi VI DPR, Rivqy Abdul Halim, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi memang sulit dihindari di tengah tekanan global sektor energi. Namun, ia menekankan agar dampaknya tidak merembet ke kebutuhan pokok.
“Momentum dan komunikasi kebijakan ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kegelisahan publik,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (18/04).
Rivqy menambahkan, pemerintah harus menyampaikan secara terbuka kondisi riil BBM nasional, termasuk ketersediaan, beban subsidi, dan tantangan distribusi. Transparansi, menurutnya, akan membantu masyarakat memahami alasan di balik kebijakan tersebut.
Sejumlah pengguna BBM nonsubsidi mengaku terkejut dengan lonjakan harga. Yusuf (33), pengguna Pertamax Turbo, mengatakan kenaikan ini berdampak pada pengeluaran bulanannya.
“Karena naiknya lumayan tinggi. Tapi saya sudah pakai Turbo dari awal, jadi siap enggak siap dengan risiko naik-turun harga,” katanya di SPBU Pancoran, Jakarta Selatan.
Hal senada disampaikan Ihsan (28), yang menyesal tidak sempat mengisi bahan bakar sebelum harga naik. “Dampaknya terasa, pengeluaran bulanan bertambah hingga ratusan ribu rupiah,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini cukup mengejutkan karena sebelumnya pemerintah sempat menyatakan tidak akan ada penyesuaian harga pada April 2026. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, bahkan menegaskan keputusan harga BBM selalu mengedepankan kepentingan rakyat.
Dengan kenaikan terbaru, pemerintah dan Pertamina dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar tidak ikut terdampak oleh lonjakan biaya energi.








