Koma.id – Mantan Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa situasi global saat ini berada dalam tekanan berlapis akibat tiga krisis besar yang terjadi secara bersamaan, yakni perubahan iklim, ketegangan geopolitik, dan disrupsi teknologi.
“Kombinasi dari ketiga faktor tersebut membuat banyak negara di dunia kesulitan menjaga stabilitas, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun keamanan,” jelas Jokowi, dikutip Minggu (5/4/2026).
Perubahan Iklim Kian Nyata
Mantan Wali Kota Solo itu menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim kini dirasakan hampir di seluruh dunia. Berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, banjir bandang, hingga kenaikan permukaan air laut semakin sering terjadi dan menjadi ancaman serius bagi banyak negara.
Ia menilai krisis lingkungan ini tidak lagi bersifat jangka panjang, melainkan sudah menjadi realitas yang dihadapi saat ini.
FAM UBK Murka! Tudingan Dana Rp300 Juta ke Gibran Disebut Fitnah, Tantang Pembuktian di Jalur Hukum
Geopolitik Memanas
Di sisi lain, Jokowi juga menyoroti kondisi geopolitik global yang belum mereda. Konflik besar seperti Perang Rusia-Ukraina dan Konflik Israel–Palestina masih terus berlangsung.
Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga dinilai semakin meningkat dan berpotensi memperburuk situasi global.
“Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga berdampak luas terhadap stabilitas global, termasuk sektor energi dan ekonomi,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia mengungkapkan pernah menghubungi kerabat dan pejabat di Uni Emirat Arab pada saat awal konflik berlangsung untuk memahami situasi yang terjadi di kawasan tersebut.
Pemerintah Dinilai Mampu Tahan Tekanan
Di tengah tekanan global tersebut, Jokowi menilai pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto masih mampu menjaga stabilitas dalam negeri, termasuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Hal ini dinilai sebagai langkah penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
Ancaman Disrupsi Teknologi
Selain isu iklim dan geopolitik, Jokowi juga menyoroti ancaman disrupsi teknologi yang semakin cepat, khususnya akibat perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi robot humanoid.
Menurutnya, revolusi teknologi ini berpotensi mengubah lanskap ekonomi dan ketenagakerjaan secara drastis, sehingga perlu diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
Jokowi menegaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi situasi yang kompleks dan penuh ketidakpastian, sehingga diperlukan kesiapan dan strategi yang matang dari setiap negara untuk mampu bertahan dan beradaptasi.












