Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaNasional

BPOM Temukan Banyak Takjil Mengandung Formalin hingga Rhodamin B

Views
×

BPOM Temukan Banyak Takjil Mengandung Formalin hingga Rhodamin B

Sebarkan artikel ini
Bpom Temukan Banyak Takjil Mengandung Formalin Hingga Rhodamin B

Koma.id Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) menemukan ratusan takjil yang mengandung bahan berbahaya setelah melakukan pengujian terhadap 5.447 sampel makanan berbuka puasa di berbagai daerah di Indonesia. Sampel tersebut diambil dari 2.407 pedagang di 513 titik lokasi penjualan.

Dari hasil pemeriksaan, sebanyak 108 sampel dinyatakan tidak memenuhi standar keamanan pangan karena mengandung bahan berbahaya seperti formalin, rhodamin B, boraks, hingga mentanil yellow.

Silakan gulirkan ke bawah

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyebut temuan terbanyak berada di Lubuklinggau, Sumatera Selatan dengan 27 sampel bermasalah, disusul sejumlah daerah lain seperti Tangerang, Surabaya, dan Jakarta. Khusus Jakarta beberapa takjil seperti es cendol, sirup, dan kerupuk dilaporkan mengandung rhodamin B.

“Kita sudah lakukan seluruh Indonesia di 513 titik khusus makanan takjil, terbanyak di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, ada 27 sampel tidak memenuhi ketentuan, dan memang temuan takjil berbahaya ini meningkat juga dari tahun lalu,” tutur Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar, Rabu (11/3/2026).

BPOM menjelaskan bahan berbahaya yang ditemukan memiliki ciri khas tertentu pada makanan. Formalin kerap ditemukan pada mi kuning, tahu, hingga teri nasi dengan tekstur tidak mudah hancur dan bau khas menyengat.

Rhodamin B biasanya terdapat pada kerupuk, bolu, jeli merah, es cendol, hingga sirup yang memiliki warna merah mencolok dan tidak merata. Sementara boraks ditemukan pada mi basah, kerupuk, lontong, hingga sotong dengan tekstur kenyal dan tidak mudah hancur.

Selain itu, mentanil yellow juga ditemukan pada tahu berwarna oranye. BPOM menyebut temuan takjil berbahaya tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, meski lokasi penyebarannya mulai bergeser akibat evaluasi dan pengawasan yang dilakukan secara berkala.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.