Koma.id – Meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak langsung pada jemaah umrah asal Indonesia. Sedikitnya puluhan ribu jemaah dilaporkan tertahan di Makkah dan Madinah akibat pembatalan sejumlah penerbangan internasional.
Di Nganjuk, Jawa Timur, sebanyak 100 jemaah umrah yang diberangkatkan melalui biro perjalanan SDW Umrah dan Haji masih berada di Tanah Suci. Kepala SDW Umrah dan Haji, Franki Yoen Anando, menyebutkan ada tiga grup jemaah yang tertahan, salah satunya rombongan Sholawat Janur pimpinan Gus Arafat Ajisoko dari Selorejo, Kecamatan Bagor.
“Total ada 100 jemaah. Sampai sekarang mereka masih berada di Makkah dan Madinah,” ujarnya. Sesuai jadwal, rombongan pertama seharusnya kembali ke Indonesia pada 5 Maret 2026, sementara grup kedua pada 11 Maret 2026, dan grup ketiga setelah Idulfitri.
Situasi serupa juga dialami ribuan jemaah asal Sumatera Barat. Pelaksana Tugas Kepala Kanwil Kemenhaj Sumbar, M. Rifki, memperkirakan sekitar 2.500 hingga 3.000 jemaah asal provinsi tersebut masih tertahan di Arab Saudi.
“Dalam seminggu rata-rata ada 1.000 orang diberangkatkan. Jadi diperkirakan sekitar 2.500 sampai 3.000 orang jamaah umrah asal Sumbar yang mungkin sedang berada di Arab Saudi,” katanya di Padang, Senin (02/03).
Secara nasional, Kementerian Haji dan Umrah RI mencatat sekitar 58 ribu jemaah umrah Indonesia masih tertahan di Makkah maupun Madinah. Pemerintah mengimbau seluruh calon jemaah untuk menunda keberangkatan hingga situasi keamanan di Timur Tengah kembali kondusif. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian demi keselamatan warga negara.
Dampak konflik juga dirasakan jemaah yang menggunakan maskapai transit internasional. Sejumlah penerbangan Qatar Airways dilaporkan dibatalkan mendadak, membuat puluhan jemaah asal Jawa Barat terpaksa menunggu tanpa kepastian di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Ketua Asosiasi Berpahala Jawa Barat, Jalaluddin Al Mubarak, menyebutkan 27 jemaah dari pihaknya terdampak, dengan sebagian sudah menginap dua malam di sekitar bandara. Maskapai disebut memberikan fasilitas hotel bagi jemaah yang sudah melakukan check-in, namun tidak semua memperoleh kompensasi.
Hingga kini, belum ada kepastian resmi mengenai jadwal penerbangan pengganti. Biaya tambahan akomodasi bagi jemaah yang tidak memperoleh kompensasi sementara ditanggung pihak travel masing-masing. Pemerintah Indonesia diminta segera melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Arab Saudi dan maskapai penerbangan untuk mempercepat kepulangan jemaah ke Tanah Air.








