Koma.id — Sebuah podcast bertema “Gamers dan Semangat Jaga Negeri di Era 5.0” menghadirkan kisah transformasi seorang konten kreator gim—dikenal luas sebagai Bang Pascol—yang menjahit pengalaman hidup keras menjadi energi positif bagi generasi muda. Percakapan berlangsung santai namun serius: bagaimana kultur gim, konten digital, dan komunitas Gen Z bisa ikut meredam ketegangan sosial serta menyebarkan optimisme.
Podcast dibuka oleh moderator dengan gagasan sederhana: di dunia gim tak ada “game over”—hanya “pause” singkat sebelum “tempur lagi”. Analogi itu mengantar cerita panjang Bang Pascol, putra Pematangsiantar, lulusan STM, yang pernah bekerja di galangan kapal hingga menjadi pekerja migran di Arab Saudi. “Saya nggak punya skill, tapi saya jaga kepercayaan. Minimal kita rajin,” kisahnya. Masa-masa berat—mulai tidur di kebun sawit hingga makan seadanya—menjadi bahan bakar tekadnya saat beralih menjadi streamer dan kreator.
Di segmen berikut, Bang Pascol menegaskan alasan hadirnya di tengah demonstrasi yang sempat ricuh. Ia mengaku datang sebagai penengah: **“Jangan bawa batu, jangan anarkis. Sampaikan aspirasi baik-baik.”** Menurutnya, pengalaman langsung penting agar kelak ia bisa menasihati generasi berikutnya dengan contoh nyata, bukan sekadar teori.
Mahfud MD: Cukup Ubah Satu Pasal untuk Alihkan Pidana Umum Prajurit TNI ke Peradilan Umum
Sebagai figur dengan jutaan penonton, ia sadar tanggung jawab moral di ruang digital. Ia mengajak komunitas gim dan para pengikutnya **tidak menyebarkan hoaks**, selalu memeriksa informasi dari **tiga sudut pandang—positif, negatif, netral**, serta mendorong klarifikasi bila terjadi misinformasi. “Sebagai public figure, tugas kita menggiring ke hal yang positif,” tegasnya.
Bang Pascol juga menyoroti potensi ekosistem e-sports sebagai sumber prestasi, ekonomi kreatif, dan kebanggaan nasional. Ia mendorong pemerintah—termasuk Kemenpora—lebih menfasilitasi turnamen, membuka akses bakat di daerah, hingga membina literasi digital agar karier kreator tidak mengorbankan pendidikan. “Era digital membuka banyak peluang. Konsisten, evaluasi konten, dan jauhi SARA/rasisme adalah kuncinya,” ujarnya.
Menutup sesi, ia menyambung tema Sumpah Pemuda dan jelang Hari Pahlawan dengan pesan sederhana namun kuat: m tingkatkan skill, bersyukur, jauhi narkoba dan kekerasan, serta jadilah teladan di ruang digital. Bagi Bang Pascol, menghibur publik sambil menyebar nilai kebangsaan adalah bentuk “jaga negeri” ala generasi 5.0—bergerak dari layar, berdampak ke masyarakat.







