Koma.id | Gunungkidul – Wabah antraks kembali melanda Kabupaten Gunungkidul, DIY, mengakibatkan 26 ekor ternak mati. Kasus ini telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium di Balai Besar Veteriner (BBVet) Yogyakarta.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul terus melakukan langkah antisipasi untuk mencegah penyebaran penyakit yang berbahaya ini.
Kasus yang terdeteksi sejak Maret 2025 ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Petugas dinas telah melakukan penyemprotan disinfektan dan pemberian vaksin di area ternak yang terinfeksi. Selain itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan kandang serta tidak menyembelih ternak yang sakit atau mati.
Namun, Kepala DPKH Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, mengungkapkan bahwa tradisi masyarakat menyembelih ternak yang sakit, dikenal dengan “brandu,” menjadi kendala utama.
“Hewan yang mati banyak disembelih dan dijual, sehingga mempercepat penyebaran penyakit,” ujarnya.

Wabah ini dilaporkan terjadi di Desa Tileng, Kecamatan Girisubo, dan Desa Bohol, Kecamatan Rongkop. Ternak yang mati mendadak menunjukkan gejala khas antraks. Berdasarkan hasil uji laboratorium, antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang sangat berbahaya baik bagi hewan maupun manusia.
Petugas dinas mencatat adanya laporan ternak yang dijual ke luar wilayah sebelum sempat diidentifikasi. Hal ini mempersulit kontrol penyebaran penyakit.
Kasus antraks yang terjadi tahun lalu bahkan telah menelan korban jiwa akibat warga mengonsumsi daging ternak yang terinfeksi. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pun meminta pihak terkait untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar mengenali ciri-ciri penyakit serta bahaya antraks.
“Dibutuhkan literasi yang baik bagi peternak untuk menjaga ternak mereka dan melindungi diri dari antraks,” tegas Sultan.
Dengan langkah penanganan intensif yang dilakukan, pemerintah berharap kasus ini dapat segera teratasi tanpa ada korban jiwa tambahan.








