Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaDaerahHukum

Fitnah di Tengah Duka: Refleksi Kebebasan Berpendapat di Era Digital

Views
×

Fitnah di Tengah Duka: Refleksi Kebebasan Berpendapat di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Fitnah di Tengah Duka: Refleksi Kebebasan Berpendapat di Era Digital

Koma.id, Banten – Insiden tragis penembakan tiga anggota polisi oleh dua oknum anggota TNI di Way Kanan, Lampung, telah mengguncang publik. Di tengah suasana duka, muncul narasi liar di media sosial yang justru memperkeruh keadaan. Salah satu unggahan kontroversial datang dari seorang pengguna TikTok, Netha Viany, yang menuding bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh kenaikan “setoran” terkait judi sabung ayam. Tuduhan ini menuai kecaman dari berbagai pihak.

Kiyai Amal Faihan Maimun, Pengasuh Pondok Pesantren Subulussalam sekaligus Kabid Hukum dan Politik Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banten, angkat bicara. Menurutnya, tindakan menyebarkan informasi tanpa dasar yang jelas adalah bentuk pelanggaran moral yang dapat merusak tatanan sosial.

Silakan gulirkan ke bawah

“Di saat keluarga korban berduka dan institusi kepolisian berupaya menuntaskan kasus ini dengan transparan, muncul tuduhan tak berdasar yang justru memperkeruh suasana. Ini adalah bentuk ketidakpedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Kiyai Amal.

Ia menambahkan bahwa kebebasan berpendapat di media sosial harus diiringi dengan tanggung jawab. Menurutnya, menyebarkan informasi yang tidak valid tidak hanya menyesatkan publik, tetapi juga mencederai martabat para korban yang telah berkorban nyawa dalam menjalankan tugas.

“Empati adalah kunci dalam menyampaikan opini. Tanpa empati, kebebasan berpendapat hanya menjadi alat untuk menyebarkan kebencian dan hoaks,” tegasnya.

Kiyai Amal, Pengasuh Pondok Pesantren Subulussalam
Kiyai Amal, Pengasuh Pondok Pesantren Subulussalam

Kiyai Amal juga mengingatkan pentingnya literasi digital di era informasi. Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama di platform media sosial yang sering kali menjadi ladang penyebaran hoaks.

Menyoroti bulan Ramadan yang penuh berkah, ia mengingatkan bahwa masa ini adalah waktu terbaik untuk refleksi diri dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

“Di bulan yang mulia ini, kita diajak untuk berintrospeksi. Malam Lailatul Qodar yang penuh doa besar menjadi kesempatan untuk memohon ampunan atas segala khilaf, termasuk fitnah yang tanpa dasar dan bukti. Fitnah adalah dosa yang besar, terlebih jika menyakiti mereka yang sedang berduka,” kata Kiyai Amal.

Ia pun mendorong umat untuk lebih menjaga lisan dan berhati-hati dalam lisannya. Insiden ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kebebasan berpendapat harus digunakan dengan bijak. Di tengah tragedi, empati dan tanggung jawab adalah nilai yang harus dijunjung tinggi.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.