Koma.id– Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusak Farchan, mengkritik tajam pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia soal penyematan istilah “Raja Jawa” oleh Bahlil kepada Presiden Joko Widodo telah menciptakan kegaduhan public. Pasalnya ucapan Bahlil tanpa disertai narasi positif yang bisa memperjelas maksud di balik istilah tersebut.
Farchan menilai bahwa Bahlil telah membuka tabir kepemimpinan Jokowi dengan cara yang kontroversial, secara tidak langsung menyoroti kelemahan dalam kepemimpinan presiden ketujuh Republik Indonesia ini.
Istilah “Raja Jawa” yang digunakan Bahlil dinilai tidak hanya sebagai gambaran kekuasaan tetapi juga sebagai kritik tersembunyi terhadap kepemimpinan Jokowi.
Menurut Farchan, Bahlil tampaknya tidak memahami secara mendalam arti dan konteks penggunaan istilah “Raja Jawa” dalam komunikasi politik. Alih-alih memperkuat citra kepemimpinan atau membawa narasi yang konstruktif, pernyataan Bahlil justru menyiratkan ketidakpuasan dan menambah panas suasana politik yang sudah memanas.







