KOMA.ID – Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan bahwa asumsi bahwa semua polisi itu buruk adalah sesuatu yang salah pikir. Ia pun menganggap ketika ada polisi yang jelek dan tidak menjalankan tugas, pokok dan fungsi sebagaimana mestinya, itu masih dalam taraf oknum.
“Kok masih ada oknum aparat yang nakal. Alhamdulillah saudara menyebut oknum, memang oknum saya katakan tadi,” kata Mahfud MD saat menjawab pertanyaan Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur, Senin (16/10).
Alasan mengapa dirinya menyebut oknum, sebab jumlah polisi yang tidak baik dengan polisi baik masih sangat kecil sekali.
“Polisi itu jumlahnya sekarang ini kira-kira 700 ribu, berapa yang nakal ? Ndak banyak kan. Ya paling Sambo, Teddy. Hitung lah, ndak akan 0,001 persen dari Polisi, yang lain itu baik-baik,” ujarnya.
Ia malah mempertanyakan kembali kepada mereka yang menyebut ulah buruk oknum polisi lalu memberikan labeling bahwa semua polisi buruk. Kenapa mereka tidak mempertanyakan ketika ada polisi yang baik di Indonesia.
Mahfud mengabarkan bahwa ada polisi-polisi baik di daerah yang selalu peduli dengan sekitarnya. Termasuk salah satu polisi di NTT yang hampir setiap hari berbagi kepada orang-orang jompo yang tinggal sebatang kara ditinggal anak-anaknya.
“Di NTT, dia kombes aja belum tapi gajinya setiap hari sudah diantarkan ke rumah jompo, gajinya disimpan setiap hari dibagi-bagikan ke jompo yang ditinggal anaknya. Itu polisi juga, apa ndak baik ?,” tutur Mahfud.
Kemudian, ada juga polisi di Banten yang memiliki rumah penampungan anak-anak yatim. Ia mengabdikan diri juga untuk merawat dan memberikan kebutuhan pangan bagi anak-anak yang sudah tidak memiliki ayah dan ibu.
“Di Banten, ada seorang polisi naik sepeda motor eklek-eklek dia punya rumah anak yatim, setiap pagi dia datang ke anak yatim ngasih makan, pulang ngasih makan ke anak yatim, ada polisi yang kayak begitu?,” sambungnya.
Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menghakimi semua polisi jelek karena adanya ulah oknum polisi yang tidak baik.
“Saudara pikirnya Sambo saja, banyak kok yang bagus,” tegasnya.
Tanpa Polisi Negara Bubar
Lebih lanjut, tokoh asal Madura Jawa Timur itu mengatakan bahwa keamanan yang dirasakan masyarakat saat ini adalah bagian dari manfaat adanya kepolisian di Indonesia. Sebab, tanpa ada polisi maka situasi tidak akan kondusif.
“Ini kita begini (kuliah umum) aman ini, karena banyak polisi baik,” terangnya.
Ia menyatakan jika sampai polisi mogok kerja setengah hari pun, maka kekacauan akan terjadi di mana-mana, bahkan hal paling buruk adalah Indonesia bakal bubar.
“Mogok setengah hari, belum setengah hari negara sudah hancur. Merampok polisinya diam, presiden diganggu, kantor pemerintahan, (polisi) diam. Sudah 6 jam mogok selesai, negara sudah bubar,” paparnya.
Oleh sebab itu, ia lagi-lagi memberikan pemahaman bahwa publik tidak perlu berpikir terlalu berlebihan menganggap semua polisi buruk karena adanya ulah oknum.
“Jangan memandang polisi harus tidak ada, harus dianggap jahat semua, itu ndak,” sambungnya.














