Koma.id– Masalah polusi udara di Jakarta telah menjadi topik hangat dalam beberapa bulan terakhir, memicu perbincangan publik yang intens. Namun, upaya yang dilakukan pemerintah masih terlihat belum cukup signifikan dalam mengatasi permasalahan ini. Demikian kata Pengampanye Polusi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Abdul Ghofar.
Untuk itu Ghofar memberikan beberapa saran kepada pemerintah untuk meningkatkan langkah-langkah dalam menekan polusi udara. Pertama, ia menekankan pentingnya mengidentifikasi sumber-sumber polusi, seperti sektor transportasi, industri, dan energi untuk mengurangi emisi langsung dari sumber-sumber tersebut.
Ghofar juga mengapresiasi langkah pemerintah memberikan sanksi tegas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI menjatuhkan sanksi administrasi kepada 11 industri yang dinilai menjadi sumber pencemaran udara di Jabodetabek dan sekitarnya.
Untuk itu di masukan poin kedua bagi pemerintah, Ghofar meminta perlu secara berkala melakukan penindakan terhadap perusahaan lain yang terindikasi melakukan pelanggaran yang sama.
“Memang sudah ada hal yang patut diapresiasi ada 11 perusahaan yang dikenakan sanksi. Namun maksud kami, jangan hanya 11 namun upaya penegakan hukum dilanjutkan terhadap perusahaan-perusahaan lain yang terindikasi melakukan pelanggaran,” kata Ghofar kepada Koma.id, Kamis (7/9/2023).
Ketiga, Ghofar menyarankan untuk memperbanyak operasi terhadap PLTU batubara di sekitar Jakarta bahkan perlunya dipensiunkan dini. Mengingat kontribusi sektor energi ini terhadap polusi udara cukup signifikan jadi operasi penindakan terhadap sejumlah PLTU itu harus terus digalakkan.
“Jumlah PLTU itu ada sekitar lebih dari 16 PLTU batubara. Harapannya akan ada PLTU-PLTU yang lain yang dipensiukan dini,” ucapnya.
Terakhir, Ghofar menyoroti penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN (KTT ASEAN). Ia tak memungkiri adanya upaya pemerintah untuk menjaga kualitas udara. Namun hanya di wilayah tertentu. Pasalnya ada kemacetan dan polusi udara tampaknya pindah ke wilayah lain karena aktivitas masih berjalan normal seperti biasanya.
Secara keseluruhan, Ghofar berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah yang lebih konkret dan terkoordinasi dalam menangani masalah polusi udara yang terus memengaruhi kualitas udara di Jakarta.
“Di aplikasi memang di titik tertentu makin bagus ya dari situasi sebelum KTT ASEAN, karena area ring satu itu steril tidak ada mobilitas. Nah mungkin itu positifnya jadi udaranya lebih baik di wilayah ring 1. Jadi ada positifnya yang kontradiktif,” tutupnya.








