Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
NasionalPolitik

Mimpi SBY Bareng Megawati Naik Kereta, Tanda Rekonsiliasi Politik atau Hanya Angan-angan?

Views
×

Mimpi SBY Bareng Megawati Naik Kereta, Tanda Rekonsiliasi Politik atau Hanya Angan-angan?

Sebarkan artikel ini
sby
Susilo Bambang Yudhoyono.

Koma.id Cuitan Presiden Ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),  melalui cuitannya mengenai mimpi naik kereta bersama Presiden Joko Widodo,  dan Presiden Ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Diyakini memiliki arti politik yang mendalam, terutama dalam upaya memperkuat hubungan antara Partai Demokrat dan PDIP yang dipimpin  Megawati.

Silakan gulirkan ke bawah

Mimpi yang dialami oleh SBY menjadi perbincangan hangat di kalangan politikus dan publik. Banyak yang akhirnya menafsirkan mimpi itu. Salah satunya begitu besar keinginan SBY untuk melakukan rekonsiliasi hubungannya dengan Megawati.

“Ada keinginan Pak SBY untuk mengatakan bahwa satu, masa lalu yang terkait Bu Mega itu bisa terselesaikan dengan upaya yang sedang dilakukan PDIP dan juga Demokrat,” kata Direktur Eksekutif Algoritma sekaligus Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Aditya Perdana, dikutip.

Pertemuan antara dua petinggi partai, yaitu putra SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan putri Megawati, Puan Maharani, yang dilakukan beberapa hari sebelumnya di kawasan Senayan, Jakarta semakin menambah spekulasi mengenai arah politik yang baru.

Meskipun demikian, ada juga skeptisis di meragukan menyatukan Partai Demokrat dan PDIP.

Mereka menyoroti perbedaan ideologi dan kepentingan antara kedua partai tersebut yang masih menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam proses kolaborasi politik ini.

“Tafsir Mimpi SBY. Pertama, sangat jelas sekali itu mimpi besar SBY soal keinginan duet Ganjar-AHY. Ini bisa jadi ajang islah politik antara Mega dan SBY, rekonsiliasi politik antara PDIP dan Demokrat. Tentu yang bisa memediasi ini semua adalah Jokowi. Tentu ini tak mudah, berat sekali tantangan politiknya, tapi sebagai sebuah mimpi tentu layak diapreasiasi,” kata Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.