Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

663,61 Hektare Lahan Masih Terbakar, Pemerintah Fokus di 2 Provinsi Kalteng dan Sumsel

×

663,61 Hektare Lahan Masih Terbakar, Pemerintah Fokus di 2 Provinsi Kalteng dan Sumsel

Sebarkan artikel ini
Cuplikan Layar 2026 10 14 133944
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Barton Panjaitan.

KOMA.ID, JAKARTA – Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Barton SP Panjaitan menyampaikan bahwa memang terdapat 6 provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia. Namun yang masih menjadi konsentrasi tim penanggulangan ada dua provinsi, yakni Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel).

“Per tanggal 13 Oktober, penanganan karhutla fokus kami di Kalimantan Tengah maupun Sumatera Selatan, di mana kondisi Karhutla di dua provinsi ini masih mengalami kebakaran berat,” kata Barton saat jumpa pers di kantor Kemenko Polkam RI, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Ia mengatakan bahwa meskipun 4 (empat) provinsi lainnya juga terjadi kebakaran hutan, namun intensitasnya masih dianggap lebih kondusif dan mudah ditangani.

“4 provinsi lain sudah lebih membaik, kebakaran lebih mudah dipadamkan,” ujarnya.

Data yang disajikan dalam konferensi pers tersebut, untuk di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih terdapat 7,80 hektare lahan gambut yang mengalami kebakaran dan terdapat hotspot. Dan untuk lokasi itu, yang sedang mendapatkan perhatian khusus adalah Taman Nasional Tanjung Puting yang ada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan dengan luasan 513,89 hektare.

Kemudian untuk kawasan Sumatera Selatan (Sumsel), luas lahan yang masih terus dilakukan upaya pemadaman ada 49,58 hektare. Sementara untuk Kalimantan Selatan (Kalsel) masih 10,20 hektare.

Selanjutnya untuk Provinsi Jambi, sisa lahan yang harus dipadamkan ada 74,50 hektare. Kemudian untuk Provinsi Kalimantan Barat ada 8,34 hektare. Sementara di Provinsi Riau, jumlah total lahan terbakar saat ini sudah tuntas.

“Di Riau saat ini tidak ditemukan lagi titik api. Sudah tidak ada lagi yang dilaporkan kepada kami ada titik api dan lahan terbakar,” jelasnya.

Cuplikan Layar 2026 10 14 133933
Provinsi atensi karhutla.

Untuk itu, data yang dapat disajikan kepada masyarakat pada kesempatan konferensi pers hari ini adalah, total lahan yang harus dipadamkan ada 663,61 hektare.

“Jadi per hari kemarin, ada 663,61 hektare lahan hektare lahan gambut yang saat ini masih terbakar,” tandas Barton.

Lebih lanjut, Barton juga menyampaikan bahwa setidaknya sudah 80% lahan yang terbakar berhasil dipadamkan. Hal ini karena berkat pengerahan jumlah personel yang cukup, serta peralatan yang memadai.

“Bahwa lebih dari 80% dari hasil yang kami dapatkan, bahwa hasil laporan dari masing-masing provinsi untuk kekuatan personel dan peralatan yang saat ini tergelar masih cukup memadai, dengan hasil capaian pemadaman lahan terbakar yang baru setiap hari rata-rata di atas 80% dari lahan terbakar,” tuturnya.

Pencapaian itu menurut Barton adalah wujud nyata bagaimana pemerintah masih sangat serius dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan layan yang terjadi di Indonesia.

“Jadi ini juga perlu kami sampaikan karena bagaimanapun pemerintah tetap melakukan upaya optimal,” tegasnya.

Di samping itu, ia juga menyampaikan bahwa upaya pemadaman masih dilakukan dengan dua metode penting, yakni pemadaman lewat darat dan udara. Untuk udara, langkah yang dilakukan adalah dengan water bombing, yakni penyiraman secara manual menggunakan pesawat dan helikopter melalui udara, serta OMC (Operasi Modifikasi Cuaca).

Pun demikian, langkah pemadaman yang masih sangat difokuskan adalah melalui mekanisme pemadaman darat. Di mana pemadaman dilakukan dengan penyemprotan air ke titik api, serta melakukan pendinginan di area dalam tanah.

“Operasi pemadaman tentu mengutamakan operasi darat karena memang ini lebih efektif. Operasi udara bisa memadamkan seketika tapi tidak pada lahan gambut,” papar Barton.

Ia sangat berharap langkah pemadaman bisa semakin maksimal. Khususnya kawasan lahan gambut yang menurutnya memang cukup sulit untuk dipadamkan. Sebab sering kali pemadaman berhasil dilakukan di permukaan, namun ternyata api masih menyala di dalam.

“Semoga api baru semoga tidak muncul. Kadang-kadang begini, kita sudah padamkan di permukaan tapi di bawah belum, kemudian dua hari kemudian muncul lagi. Makanya pemantauan ini terus dilakukan oleh masyarakat maupun petugas kita di lapangan,” jelasnya.

Terakhir yang jauh tak kalah penting lagi adalah, pemerintah terus mengupayakan agar kualitas udara semakin membaik dari hari ke hari.

“Tentu kita berharap kualitas udara terus membaik dan tentu ini berhasil diverifikasi melalui data di lapangan,” pungkasnya.

Pemerintah Serius Padamkan Api

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi Kemenko Polkam, Brigjen TNI Inf Honi Havana menyampaikan, bahwa pemerintah sangat serius dalam upaya penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan.

“Upaya pemadaman ini mengerahkan segara sumber daya yang ada dioptimalkan. Satu indikasinya, kalau kita bandingkan pengerahan personel antara bulan September – Oktober ini meningkat 57,5 persen,” ujarnya.

Penambahan personel ini kata Honi adalah satu langkah serius bagaimana pemerintah Indonesia terus berjibaku untuk memadamkan api yang sedang tidak sekadar mengganggu masyarakat di Indonesia, namun juga berdampak buruk bagi negara tetangga.

“Dulu di pertengahan bulan September 43.931 orang saat ini dikerahkan 69.190 orang. Artinya ada penambahan 25.259 personel dari semua unsur, TNI, Polri BNPB, dan juga unsur-unsur yang lain,” jelasnya.

Segala sumber daya dan kemampuan kita kerahkan betul agar karhutla ini dapat ditangani dengan baik,” pungkas Honi.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.