Koma.id | Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan inspeksi mendadak ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyusul laporan penumpukan lebih dari 3.100 kontainer yang dinilai mengganggu kelancaran arus logistik dan pasokan bahan baku industri.
Dalam kunjungannya, Purbaya menyebut jumlah kontainer yang menumpuk sempat mencapai 3.000 unit, namun kini berkurang menjadi sekitar 2.500. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di atas kondisi normal yang berkisar 500 kontainer.
“Saya minta agar penanganan dilakukan 24 jam penuh sampai jumlahnya kembali ke level normal,” tegasnya.
Ia menjelaskan, penumpukan terjadi akibat lonjakan impor pada April 2026 yang membuat proses pelayanan melambat. Selain itu, banyak kontainer yang sudah menyelesaikan proses administrasi dan kepabeanan, namun tidak segera diambil oleh importir.
“Mungkin karena dendanya lebih murah, mereka biarkan saja barangnya di sini berbulan-bulan sehingga pelabuhan penuh,” ujarnya.
Purbaya menegaskan pemerintah akan mengevaluasi regulasi dan menyiapkan mekanisme sanksi bagi importir yang terlalu lama membiarkan barangnya tertahan di pelabuhan.
“Aturannya harus fair, jangan tiba-tiba semua berbayar atau dendanya berlipat. Tapi kalau sudah berhari-hari sampai sebulan lebih, itu tidak wajar,” katanya.
Dalam sidak tersebut, Purbaya juga meninjau Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) PT Graha Segara dan memeriksa langsung isi beberapa kontainer, di antaranya bahan baku kulit, onderdil blender, matras karet, dan marmer. Ia menekankan perlunya pengawasan ketat untuk mencegah praktik under invoicing serta menyebut pemerintah akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengawasan.
Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran aktivitas pelabuhan, menjaga kapasitas penumpukan, dan mencegah gangguan rantai pasok industri akibat keterlambatan distribusi barang.








