Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan bertahan di kisaran Rp17.000 per dolar AS sepanjang pekan depan. Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menyebut tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah ketidakpastian sentimen global maupun domestik.
“Kalau melihat kondisi seperti saat ini, rupiah masih di level Rp17.000-an, hopefully masih di bawah Rp17.500 per dolar AS. Harapannya tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi,” kata Josua, Sabtu (23/05).
Potensi Penguatan di Kondisi Normal Josua menjelaskan, secara teori nilai tukar riil efektif rupiah dalam kondisi normal seharusnya bisa menguat di bawah Rp17.000 per dolar AS. Namun, rupiah masih tertekan oleh sentimen rebalancing MSCI dan kebijakan ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Ia menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk meredam beban sentimen negatif.
“Sinergi kebijakan ini kata kunci yang sangat direspons positif oleh rating agency dan investor asing. Ini harus diperkuat lagi saat ini,” ujarnya.
Respons Kebijakan BI Josua mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026. Menurutnya, keputusan tersebut langsung direspons positif oleh pasar.
“Pada saat pengumuman RDG BI, rupiah sempat menguat meski kemudian melemah lagi,” katanya.
Rupiah Melemah di Akhir Pekan Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (22/05) melemah 0,28% atau 50 poin ke level Rp17.717 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.667.
BI Imbau Publik Tidak Panic Buying Dolar BI mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aksi borong dolar AS di tengah pelemahan rupiah. Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, menilai panic buying valas justru memperparah volatilitas kurs.
“Pembelian dolar secara besar-besaran dapat memicu lonjakan permintaan semu yang tidak didasarkan pada kebutuhan riil,” ujarnya, Jumat (22/05). BI memastikan pasokan valas di pasar tetap melimpah dan sistem perdagangan berjalan efisien.








