Koma.id | Jakarta – Pemerintah mulai menguji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram (kg) di sektor rumah tangga. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut langkah ini sebagai strategi menekan impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara hingga Rp130–140 triliun per tahun.
“CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya,” ujar Bahlil di Jakarta, Rabu (06/05). Ia menambahkan, penggunaan CNG akan tetap disubsidi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar harga yang diterima masyarakat tetap terjangkau.
Bahlil menegaskan, harga CNG nantinya diupayakan minimal sama dengan LPG 3 kg. “Doakan seperti itu ya. Minimal sama,” katanya.
Keunggulan CNG
- Berbasis gas domestik: Tidak bergantung pada impor seperti LPG.
- Lebih murah: Ongkos penggunaan bisa hemat 30–40 persen.
- Lebih ramah lingkungan: Emisi lebih rendah dibanding LPG.
- Sudah diterapkan terbatas: Digunakan di hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis.
Meski menjanjikan efisiensi, penerapan CNG di rumah tangga masih menghadapi kendala infrastruktur. Distribusi CNG belum sematang LPG, sehingga perlu pengembangan stasiun pengisian dan sistem “virtual pipeline” untuk menjangkau daerah tanpa jaringan pipa gas.
PT Perusahaan Gas Negara (PGN) melalui anak usaha PT Gagas Energi Indonesia kini mengoperasikan 14 stasiun pengisian bahan bakar gas di tujuh provinsi. PGN juga menyalurkan CNG ke sektor industri dan UMKM, serta membangun Mother Station di Medan untuk memperluas jangkauan.
Anggota Komisi XII DPR RI Yulisman menilai CNG bisa menjadi solusi transisi energi yang realistis.
“Kita punya sumber gas domestik yang cukup besar, tinggal bagaimana distribusinya efektif ke masyarakat dan sektor usaha,” ujarnya.
Dengan uji coba tabung CNG 3 kg, pemerintah berharap masyarakat segera bisa merasakan manfaat energi yang lebih efisien, praktis, dan ramah lingkungan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor LPG.








