Koma.id | Bekasi – Euforia Lebaran 2026 baru saja berlalu. Gema takbir berganti dengan deru mesin kendaraan yang kembali memadati jalan raya. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, ada gema lain yang mulai terdengar lebih kencang yakni suara tuntutan ekonomi yang kian menyaring pasca hari raya.
Di tengah kondisi ekonomi yang bagi banyak orang terasa “miris”, kehadiran Tunjangan Hari Raya (THR) bak oase di padang pasir. Uniknya, tahun ini THR tidak hanya datang dari rekening kantor. Melalui tangan mungil putra-putri kita, amplop-amplop kecil dari tetangga dan saudara ikut berkumpul, menjadi harapan baru untuk menyambung nafas dapur hingga akhir bulan.
Lantas, bagaimana cara bijak mengelola “harta karun” sisa Lebaran ini? Pakar keuangan Aryo Pratomo membagikan strategi cerdas agar dana tersebut tidak sekadar numpang lewat.
Menurut Aryo, langkah pertama yang paling krusial adalah melakukan pemisahan tegas antara “dana darurat” dan “dana konsumtif”. THR anak seringkali dianggap sebagai uang tambahan yang bebas dibelanjakan. Padahal, jika dikelola dengan baik, dana ini bisa menjadi tabungan pendidikan atau investasi masa depan bagi si kecil.
“Kuncinya adalah disiplin diri. Jangan biarkan sisa THR habis untuk menutupi gaya hidup yang melonjak saat Lebaran,” ungkap Aryo dalam salah satu tips keuangannya.
Bagi mereka yang merasa kondisi ekonomi saat ini sulit, Aryo menyarankan skema 40-30-20-10:
• 40% untuk kebutuhan pokok pasca-mudik.
• 30% untuk melunasi cicilan atau hutang yang mungkin muncul akibat pengeluaran hari raya.
• 20% disisihkan sebagai dana cadangan (investasi).
• 10% untuk kebaikan atau sedekah berkelanjutan.
Mensiasati ekonomi saat ini bukan hanya tugas kepala keluarga. Aryo menekankan pentingnya transparansi dengan pasangan. Bahkan, mengajarkan anak-anak untuk menabung sebagian THR yang mereka dapatkan adalah langkah awal mengenalkan literasi keuangan sejak dini.
Di tengah situasi yang menantang, pengelolaan keuangan yang rapi adalah bentuk “pertahanan” terbaik. Karena sejatinya, kemenangan Lebaran bukan hanya terletak pada barunya pakaian, tapi pada kemampuan kita bertahan dan tetap stabil di hari-hari setelahnya.








