Koma.id | Bekasi – Pukul menunjukkan angka 23.00 WIB, namun suasana di kawasan Bekasi Barat sama sekali belum meredup. Alih-alih deru mesin motor yang menuju pusat perbelanjaan atau aroma kopi dari kedai yang biasa menjadi tempat nongkrong, keramaian justru memadat di satu titik yakni Masjid Sulthon Aulia.
Malam ini menandai dimulainya sepuluh hari terakhir Ramadan. Momen yang dinanti untuk berburu keberkahan Lailatul Qadar. Namun, ada pemandangan yang sedikit berbeda dan menyejukkan mata. Di antara barisan jamaah, wajah-asli “anak zaman now” tampak mendominasi.
Mengenakan sarung kekinian, baju koko rapi, hingga jaket hoodie, para remaja ini mematahkan stigma yang selama ini melekat. Jika banyak yang mengira generasi ini hanya sibuk scrolling media sosial atau sekadar kongko-kongko di kafe hingga dini hari, pemandangan di Masjid Sulthon Aulia bicara lain.
Mereka hadir, membawa Al-Qur’an di tangan, dan bersiap membenamkan diri dalam kekhusyukan itikaf.
Suasana di dalam masjid terasa hangat meski udara malam Bekasi cukup menggigit. Tidak ada keriuhan yang sia-sia. Para remaja ini terlihat berbagi saf dengan para sesepuh, menciptakan harmoni lintas generasi yang indah. Ada yang khusyuk melantunkan ayat suci, ada pula yang terdiam dalam sujud panjangnya.
Kehadiran mereka di malam pertama itikaf ini menjadi bukti kuat bahwa spiritualitas tetap memiliki tempat di hati anak muda. Masjid bukan lagi dianggap tempat yang kaku atau membosankan, melainkan menjadi “rumah” yang nyaman untuk mencari ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
”Melihat mereka di sini, saya seneng banget rasanya ada harapan besar untuk generasi penerus” bisik Pengurus Masjid KH.Agus Dhani, selasa (10/03).
Dominasi kaum muda di Masjid Sulthon Aulia seolah menyuntikkan energi baru. Semangat mereka tidak kalah dengan orang tua yang sudah rutin beritikaf setiap tahun. Bagi mereka, malam ini adalah awal dari sebuah “perjalanan” spiritual selama sepuluh malam ke depan.
Lampu-lampu masjid mungkin akan terus menyala hingga fajar menyapa, mengiringi doa-doa yang dipanjatkan oleh jemari muda yang biasanya sibuk dengan layar gawai. Malam ini, gawai itu tersimpan rapi di saku, digantikan oleh tasbih dan kitab suci.
Di Masjid Sulthon Aulia Bekasi Barat, para remaja ini sedang menulis narasi baru yakni bahwa menjadi keren di mata dunia adalah pilihan, namun menjadi dekat dengan Allah SWT adalah sebuah pencapaian yang tak ternilai harganya.







