Koma.id — Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta masyarakat tidak memperdebatkan isu perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah yang sempat muncul di tengah publik.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menanggapi dinamika awal bulan Ramadan yang kerap memunculkan perbedaan penafsiran di sejumlah kelompok. Nasaruddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga suasana kekeluargaan dan persatuan menjelang bulan suci.
Menurut dia, perbedaan dalam penetapan awal Ramadan merupakan hal yang lumrah dalam tradisi umat Islam dan bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan secara tajam.
“Isu perbedaan penetapan awal Ramadan sebaiknya tidak diperdebatkan berlebihan,” ujar Menag, dikutip Rabu (18/2/2026).
Ia menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak boleh sampai merusak ukhuwah Islamiyah dan kerukunan sosial antarumat beragama. Menag berharap masyarakat dapat memaknai perbedaan sebagai bagian dari kekayaan tradisi Islam di Indonesia yang pluralis.
Selain itu, Nasaruddin mengimbau agar momentum Ramadan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkokoh nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
“Yang paling penting adalah kita menyambut Ramadan dengan semangat memperbaiki diri dan mempererat tali persaudaraan,” ujarnya.
Menag juga mengingatkan agar para pemuka agama, tokoh masyarakat, serta media massa berperan bijak dalam menyampaikan informasi. Menurutnya, narasi yang dibangun di ruang publik harus mampu meredam konflik dan memupuk semangat kebersamaan, bukan justru memicu perdebatan yang tidak perlu.
Pernyataan Nasaruddin ini muncul di tengah beredarnya diskursus terkait laporan awal Ramadan 1447 Hijriah yang diputuskan berdasarkan sidang isbat oleh Kementerian Agama. Perbedaan sudut pandang antara kelompok masyarakat maupun pakar fikih sempat menjadi topik hangat di sejumlah daerah.
Menag menegaskan bahwa perbedaan dalam penetapan kalender bukan hal yang baru dalam sejarah Islam. Sebaliknya, perbedaan itu harus dipandang sebagai bagian dari dinamika ijtihad dan tradisi keagamaan.
Ia mengajak umat Islam untuk menempatkan persatuan dan keharmonisan sebagai prioritas utama menjelang Ramadan, tanpa terjebak pada polemik yang justru menguras energi dan memecah belah.













