Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
NasionalOpini

Kecantikan di Atas Angka : Belajar di Usia Matang Bukan Ambisi, Tapi Kebutuhan Biologis

Views
×

Kecantikan di Atas Angka : Belajar di Usia Matang Bukan Ambisi, Tapi Kebutuhan Biologis

Sebarkan artikel ini
Kecantikan di Atas Angka : Belajar di Usia Matang Bukan Ambisi, Tapi Kebutuhan Biologis

​Koma.id | Jakarta – Stereotip seringkali menentukan peran perempuan, terutama ketika memasuki usia di atas setengah abad. Ada ekspektasi tak tertulis bahwa usia seharusnya membawa kebijaksanaan dalam diam, tempat ide dan kritik disimpan, bukan dibagikan. Namun, bagi sekelompok perempuan, termasuk Roostien Ilyas, aktivis sosial, pandangan ini adalah mitos yang harus dipatahkan.

​Dalam sebuah pernyataan yang menyentuh, Roostien dan teman-temannya yakni Effy, Liliek, dan Ida, yang masing-masing membawa profesi berbeda, menegaskan bahwa usia hanyalah angka, dan kecerdasan tidak pernah mengenal kedaluwarsa.

Silakan gulirkan ke bawah

​Roostien menyoroti pandangan bahwa perempuan di usia matang diminta untuk ‘menurunkan volume’ kecerdasannya, atau dianggap terlalu kritis saat menyuarakan pemikiran.

​“Padahal otak tidak pernah diberi tanggal kedaluwarsa. Ia justru rusak kalau jarang dipakai. Maka, belajar di usia matang bukan ambisi, melainkan kebutuhan biologis yang sering disalahpahami,” ujar Roostien. Minggu (28/12).

​Pandangan ini sejalan dengan Effy, Liliek, dan Ida yang membuktikan bahwa keterlibatan aktif dalam profesi dan diskusi adalah cara untuk merawat vitalitas mental. Jika otot melemah karena jarang dilatih, maka kecerdasan pun akan tumpul jika terus dibungkam.

​Terkait standar sosial, pernyataan tersebut tajam mengkritik kecenderungan masyarakat yang mengukur kecantikan dari cermin dan kecerdasan dari seberapa nyaman ia tidak mengganggu.

​“Perempuan cantik dipuji, perempuan cerdas sering diminta menurunkan volume. Padahal, kecantikan tanpa kecerdasan hanyalah dekorasi. Menarik dilihat, mudah dilupakan,” tegasnya.

​Mereka percaya bahwa kecantikan sejati di usia matang lahir dari proses internal yang panjang. Ini bukan lagi soal penampilan fisik, melainkan kejelasan berpikir, keberanian bersikap, dan kemampuan berkata ‘tidak’ tanpa merasa bersalah.

​Kesimpulan dari pernyataan ini sangat kuat, yakni usia tidak boleh menjadi batas akhir bagi pertumbuhan diri.

​“Yang menentukan nilai adalah isi kepala, keluasan hati, dan keberanian untuk terus bertumbuh, meski dunia berharap kita berhenti di usia tertentu,” tutup Roostien.

​Bagi mereka, perempuan yang terus belajar dan berani bersuara di usia matang bukan sedang melawan angka di KTP, melainkan sedang merawat martabatnya sebagai manusia yang utuh dan berdaya. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi setiap generasi, bahwa nilai seseorang tidak pernah didikte oleh usia, melainkan oleh kontribusi pemikiran dan keberanian sikap yang ia miliki.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.