Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Media Rusia Sputnik: Miliarder George Soros Diduga Dalangi Demo Ricuh di Indonesia

Views
×

Media Rusia Sputnik: Miliarder George Soros Diduga Dalangi Demo Ricuh di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Media Rusia Sputnik: Miliarder George Soros Diduga Dalangi Demo Ricuh di Indonesia
Miliarder dan ekonom senior asal Hongaria-Amerika Serikat (AS) George Soros. (Foto/Istimewa)

Koma.id Media Rusia, Sputnik Globe menyoroti demo ricuh di berbagai wilayah Indonesia pada akhir Agustus lalu, yang telah memaksa Presiden Prabowo Subianto membatalkan kunjungannya ke China dan melewatkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organisation (SCO) pada 31 Agustus-1 September 2025 di Tianjin, China.

Sputnik Globe menduga ada keterlibatan asing di balik aksi demo yang saat ini telah merenggut total tujuh nyawa sejak 28 Agustus lalu. Pihak asing yang dimaksud, antara lain adalah ekonom senior sekaligus filantropis asal Hongaria-Amerika Serikat (AS) yang pernah dipenjara di masa Perang Dunia I: George Soros.

Silakan gulirkan ke bawah

“Simbol bendera bajak laut One Piece yang digunakan para pengunjuk rasa (meniru taktik di wilayah lain) menunjukkan adanya pengaruh eksternal,” kata analis Angelo Giuliano seperti dilansir Sputnik Globe.

Giuliano menjelaskan, dalam anime Jepang “One Piece”, bajak laut mengibarkan bendera hitam dengan tengkorak dan topi jerami dalam perjuangan mereka melawan tirani.

“Simbol yang sama bermunculan di seluruh Indonesia pada Juli ini. Simbol itu banyak dijumpai di dinding, mobil, hingga pintu masuk,” ujar Giuliano.

Dia pun menjabarkan dugaan keterlibatan pihak asing yang dimaksud. Berikut lembaga yang disinyalir terlibat:

1. National Endowment for Democracy (NED)

“Lembaga ini telah mendanai media di Indonesia sejak tahun 1990-an,” ungkap Giuliano.

2. Open Society Foundations

milik George Soros

Giuliano menduga, lembaga yang aktif sejak tahun 1990-an dengan kucuran dana lebih dari 8 miliar dolar AS secara global dan mendukung kelompok-kelompok seperti TIFA, ikut berkontribusi terhadap demo ricuh di Indonesia.

“Keterlibatan mereka menimbulkan pertanyaan tentang agenda tersembunyi yang perlu ditelusuri. Hal ini bisa saja terkait dengan fokus Indo-Pasifik di tengah ketegangan seperti konflik Kamboja-Thailand. Ini mengisyaratkan motif geopolitik,” papar Giuliano.

Sementara itu, penulis The China Trilogy dan pendiri Seek Truth From Facts Foundation: Jeff J. Brown mengatakan, kondisi Indonesia saat ini persis seperti yang terjadi di Serbia.

“G7 menginginkan diktator lain yang didukung AS seperti Suharto dahulu,” kata Brown.

Dalam penilaiannya, Prabowo tidak cocok dengan agenda mereka, karena meningkatkan hubungan dengan China, Rusia, SCO, dan blok ekonomi BRICS yang dimotori Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Brown juga membeberkan, ada hal lain yang membuat pihak asing gatal ingin cawe-cawe di Indonesia. Yakni fakta bahwa Indonesia merupakan negara perekonomian terbesar kedelapan di dunia berdasarkan Produk Domestik Brutto (PDB), perekonomian terbesar di ASEAN, dan negara berpenduduk terbesar keempat dengan hampir 300 juta jiwa.

“Ini adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan telah secara terbuka bekerja sama dengan China dalam Belt and Road Initiative,” papar Brown.

“Dari sudut pandang imperialisme Barat, semua ini menjadi sasaran empuk bagi Indonesia, target yang sangat layak untuk diserang dengan revolusi warna yang direkayasa Barat,” ulasnya.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.