Koma.id | Jakarta – Duka mendalam menyelimuti dunia seni Indonesia atas kepergian artis senior Titiek Puspa, yang wafat pada Kamis (10/04/25) pukul 16.25 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Perempuan yang dikenal dengan karya-karya musiknya yang melegenda ini meninggal dunia pada usia 87 tahun akibat pendarahan otak yang dialaminya sejak dirawat pada akhir Maret.
Jenazah Titiek Puspa disemayamkan di rumah duka Wisma Puspa, Pancoran Timur Raya, Jakarta Selatan. Pada Jumat (11/04/25) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, proses salat jenazah berlangsung dengan khidmat, diikuti kerabat dan sahabat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Rencananya, pemakaman akan dilakukan setelah salat Jumat di TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Lokasi liang lahat berada di Blok AA-1 BLED 48, tak jauh dari pintu masuk makam, dengan segala persiapan telah rampung, termasuk tenda pelayat dan kursi untuk pihak keluarga.
Titiek Puspa, yang pernah menjadi tenaga honorer RRI Pusat pada tahun 1954, mengukir prestasi sebagai Juara Bintang Radio, membawa namanya melambung tinggi hingga menjadi ikon RRI. Dalam sebuah podcast, almarhumah pernah bercerita bahwa dari panggung RRI-lah perjalanan kariernya bermula, membawanya menjadi legenda yang hingga kini dikenang oleh masyarakat Indonesia.
Putra Wijaya, angkasawan RRI Jember, membenarkan bahwa Titiek Puspa pernah bekerja sebagai karyawan honorer RRI di masa lalu, meski dengan peralatan sederhana. Baginya, sosok Titiek adalah inspirasi untuk terus berkarya dengan semangat, bahkan di usia senja.
Kenangan akan karya-karya Titiek Puspa terus melekat di hati para penggemar, termasuk Etty Damayanti, salah satu fans setianya, yang mengaku kehilangan atas kepergian sang legenda.
“Karya-karya almarhumah tetap melegenda hingga sekarang. Lagu-lagunya terus terngiang di telinga kami,” ujar Etty.
Tak hanya dikenal sebagai artis, Titiek Puspa juga menjadi panutan dalam banyak aspek kehidupan. Bahkan saat mengalami sakit, keluarga mengungkapkan bahwa Titiek Puspa selalu ingin menjaga privasinya dengan bijak.
“Kami mohon doa dari pencinta ibu Titiek Puspa di seluruh Indonesia. Semoga beliau diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujar anaknya, Peti Tanjung Sari.
Kehilangan sosok Titiek Puspa menjadi pelajaran bahwa karya dan semangat hidup dapat meninggalkan jejak yang mendalam bagi generasi mendatang. Warisan seni dan inspirasinya akan terus hidup, menjadi kenangan yang berharga bagi Indonesia.







