Koma.id, Flores Timur – Isak tangis keluarga dan kerabat pecah saat jenazah Rosalina Rerek Sogen tiba di tanah kelahirannya, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Guru asal Desa Lewotala, Kecamatan Lewolema ini menjadi korban kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Yahukimo, Papua Pegunungan. Rosalina, yang dikenal sebagai pahlawan pendidikan, kehilangan nyawanya dalam serangan brutal pada Jumat, 21 Maret 2025 lalu.
Setibanya di Bandara Gewayantana, Larantuka, jenazah Rosalina disambut dengan upacara protokoler resmi oleh pemerintah daerah. Hadir dalam prosesi tersebut, Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen, Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, serta aparat gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP. Ratusan guru dari seluruh kabupaten juga berkumpul mengenakan pakaian seragam, menyanyikan lagu “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” untuk menghormati almarhumah.
Dalam sambutannya di depan Kantor Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen tak mampu menyembunyikan kesedihannya. “Saudari kami ini adalah pahlawan kemanusiaan. Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Kami menerima jenazahnya secara protokoler karena beliau adalah pahlawan bagi daerah kami,” ucapnya dengan suara bergetar.
Rosalina telah mengabdikan diri sebagai guru di pedalaman Papua sejak 2022, setelah dikontrak resmi oleh Pemerintah Kabupaten Yahukimo. Keputusannya untuk melangkah ke daerah terpencil adalah bentuk cinta terhadap dunia pendidikan, sebuah tekad yang membuatnya dihormati oleh rekan kerja dan masyarakat setempat.

Nelson Sogen, sepupu Rosalina, menceritakan kronologi peristiwa tragis tersebut. Guru berusia 30 tahun ini sedang berada di mes bersama rekan-rekannya ketika tiga orang tak dikenal datang dan menyerang menggunakan senjata tajam. Rosalina menjadi satu-satunya korban tewas dalam insiden tersebut, sementara beberapa guru lainnya mengalami luka serius.
Kabar duka mengenai kematian Rosalina telah mengejutkan keluarganya di Flores Timur. Sang ayah, Agustinus Sogen, mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki firasat buruk saat melihat pemberitaan yang menyerupai lokasi anaknya merantau. Kepedihan semakin memuncak ketika kerabat akhirnya mengonfirmasi kabar tersebut melalui komunikasi dengan rekan perantau di Papua.

Sebelum diterbangkan ke Flores Timur, jenazah Rosalina telah menjalani prosesi pemberkatan di Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus Asisi, Jayapura. Ketua Paguyuban Lewolema di Jayapura, Melky Weruin, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Yahukimo, khususnya Bupati Didimus Yahuli, yang memastikan pemulangan jenazah berjalan lancar.
Jenazah Rosalina kemudian diarak menuju rumah duka di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, untuk pemakaman. Tragedi ini telah mengguncang masyarakat Flores Timur, yang merasa kehilangan sosok berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan. Rosalina Rerek Sogen kini dikenang sebagai pahlawan yang telah berjuang membawa perubahan, bahkan hingga akhir hayatnya.







