Koma.id – Pada acara Grebeg Maulud Tahun JE 1958 atau 2024, keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tampil dengan seragam busana yang berbeda. Dengan warna biru cerah dan kombinasi motif emas, busana atau ageman keluarga Keraton Solo itu tampak lebih modern.
GKR Timoer salah satu putri PB XIII menyampaikan sejatinya kostum busana yang dikenakan oleh keluarga Keraton Solo memiliki aturan-aturan tertentu yang masih dipegang teguh hingga sekarang, seperti dari bentuk dan bahan yang digunakan.
“Ada aturan yang tetap dijalankan bahwa busana sesuai dengan pakem. Baik itu bentuk, warna, maupun bahan. Misalnya saat ini saya menggunakan beludru, selain raja, permaisuri, serta putra-putrinya dilarang menggunakan beludru. Untuk bentuknya tetap kebaya,” kata GKR Timoer di area Keraton Solo, Selasa (16/9).
Namun, lanjut dia, khusus busana yang dikenakannya siang itu terasa agak berbeda dari sebelumnya. Yakni warna biru yang cerah serta motif yang lebih modern.
Warna biru diadaptasi dari warna khas Keraton Solo. Sementara motifnya yang dibalut dengan warna emas yang menandakan kebangsawanan Jawa itu tampak lebih megah, terutama untuk kebaya.
Kebaya yang digunakan siang itu aksen hiasan yang kontras dan menarik di bagian lengan dan pergelangan tangan kanan dan diri. Tak hanya itu, juga aksen hiasan juga tampak pada bagian dada dan bawah kebaya. Motif atau pun aksen hiasan kebaya itu jarang ditemui karena biasanya hanya berupa payet.
“Ini gagasan yang baru dan cemerlang. Tanpa meninggalkan pakem busana tetapi dikolaborasikan dengan motif ataupun hiasan yang lebih modern,” pungkasnya.
Pun dengan busana yang dipakai PB XIII beserta putranya berupa beskap dengan warna senada dengan kebaya. Beskap yang digunakan oleh PB XIII sendiri berwarna dasar putih namun motifnya yang berbentuk dedaunan itu berwarna biru cerah sehingga tampak senada dengan kebaya yang dikenakan oleh keluarganya siang itu.
Sementara, Perancang Busana yang dikenakan keluarga Raja Keraton Solo, Wicaksono Aji menyampaikan bahwa untuk yang kebaya itu berjenis kutu baru sementara yang beskap berjenis takwa.
Lelaki yang sudah berkecimpung sebagai perancang busana 10 tahun lamanya itu juga menyampaikan bahwa perpaduan tradisional dan modern yang dituangkan dalam busana yang dikenakan keluarga Raja Keraton Solo itu tampak pada motif ataupun aksen hiasannya.
“Dan itu juga tantangannya karena memang saya harus jeli memahami tiap makna dibalik pakem busana Kraton Solo. Di saat yang bersamaan juga menghadirkan sentuhan modern, sehingga setiap bagian dari busana harus tetap berpijak pada pakem yang ada,” ungkapnya.
Saat ditanya apakah pemilihan motif dan warna itu, Aji, sapaan akrabnya menyampaikan bahwa untuk warna sengaja diambil dari warna khas Keraton Solo, sementara untuk motif merupakan interpretasinya yang berdasarkan pada aturan busana Keraton Solo.
“Saya sudah berkecimpung cukup lama di industri ini, sekitar 10 tahun. Khususnya dalam desain busana tradisional dengan sentuhan modern. Dengan dikenakannya busana rancangan saya ini merupakan kehormatan bagi saya karena telah dipercaya oleh Keraton Solo. Dan ini saya anggap sebagai penghargaan luar biasa atas budaya dan tradisi,” pungkasnya.










