Koma.id | Jakarta – Tren penurunan harga emas dunia kian tak terbendung pada perdagangan hari ini, Sabtu (24/10). Komoditas logam mulia tersebut resmi terperosok ke bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi dan mencatatkan rekor mingguan terburuk dalam empat bulan terakhir akibat lonjakan harga energi serta bayang-bayang pengetatan moneter Amerika Serikat.
Berdasarkan data Reuters, harga emas spot hari ini tertahan di kisaran US$ 3.998,35 hingga US$ 4.013,34 per ons troi, setelah sempat merosot tajam ke level terendah sesi di US$ 3.975,23. Secara akumulatif sepekan, aset safe haven ini telah terkoreksi sekitar 3,6 hingga 4 persen, yang menandai penurunan mingguan terdalam sejak Juni 2026. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 ditutup melemah di kisaran US$ 4.007,90 hingga US$ 4.028 per ons troi.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini dipicu oleh lonjakan tajam harga minyak mentah dunia, dengan jenis Brent menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir pascaserangan Houthi di Arab Saudi. Keadaan ini membakar kekhawatiran pasar terhadap naiknya inflasi global, yang pada gilirannya memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
Kepala Riset Pasar Capital.com, Monte Safieddine, menyebutkan bahwa para pelaku pasar saat ini berupaya keras mempertahankan harga emas pada level psikologis US$ 4.000 per ons troi. “Apabila harga menembus level tersebut secara meyakinkan, kondisi itu dapat menandakan pasar mulai memperhitungkan inflasi yang sulit turun, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan penguatan dolar AS,” ujarnya.
Tekanan terhadap komoditas logam mulia turut diperburuk oleh aksi jual masif di pasar saham sektor teknologi akibat sentimen saham kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kondisi tersebut memicu margin call bagi para investor dan pedagang saham, sehingga mereka terpaksa melikuidasi kepemilikan aset emas dan perak demi memenuhi kewajiban modal.
KPU dan Gibran ke Dilaporkan ke Bawaslu
Memasuki pekan depan, analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai tekanan terhadap pasar emas dan perak masih akan berlanjut. Kebijakan bank sentral utama dunia diperkirakan belum akan melunak dalam waktu dekat di tengah bayang-bayang inflasi energi.
Pasar kini menantikan Rapat Komite Pasar Bebas Federal (FOMC) The Fed pada 27–28 Oktober 2026 di mana peluang The Fed menahan suku bunga diperkirakan mencapai 92 persen, serta rilis data belanja konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pada 29 Oktober mendatang guna mencari arah kepastian kebijakan moneter global selanjutnya.









