Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/10). Mata uang Garuda terkoreksi 20 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp18.080 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, terutama meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global menyusul memanasnya konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Menurut Ibrahim, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian investor setelah perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.
“Bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus berkecamuk,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, pasar juga mencermati gangguan pasokan minyak dari Libya setelah penutupan katup pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dunia.
Di sisi lain, dolar AS memperoleh dukungan dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir 17 Oktober tercatat sebanyak 194 ribu, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar maupun periode sebelumnya yang berada di level 200 ribu.
Data tersebut memperkuat optimisme terhadap ketahanan ekonomi AS dan mendorong minat investor terhadap aset berbasis dolar.
Meski demikian, pelaku pasar masih belum melihat adanya peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), setelah sebelumnya data inflasi AS menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pelemahan rupiah juga terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks tersebut tercatat berada di atas level 101 pada perdagangan Jumat.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan situasi geopolitik global, pergerakan harga energi, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan pekan depan.









