Koma.id | Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyetujui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan sebanyak satu hingga dua kali setiap pekan. Langkah ini diambil untuk memitigasi dampak fenomena El Nino dan kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026.
“Jadi intinya saya sudah memberikan persetujuan, kalau bisa setiap minggu itu satu sampai dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca kalau memang awannya ada,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota, Rabu (05/08).
Keputusan ini diambil setelah BPBD DKI Jakarta berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB. Dari hasil pemantauan, puncak kemarau tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang terpanjang dibandingkan tahun sebelumnya.
“Puncaknya kurang lebih akhir September atau pertengahan Oktober, baru akan ada hujan,” kata Pramono.
Pemprov DKI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menentukan waktu pelaksanaan OMC yang efektif.
“Jangan sampai kita sudah memodifikasi tetapi awannya enggak ada,” ujarnya menegaskan.
Menurut Pramono, tantangan terbesar dalam pelaksanaan OMC adalah minimnya awan yang dapat disemai. Meski demikian, hujan yang turun pada Selasa (4/8) malam dinilai menjadi momentum positif.
“Kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak saleh, bukan ada awan tapi bisa dimodifikasi,” katanya.
Melalui modifikasi cuaca berkala, Pemprov DKI berharap dapat menekan risiko kekeringan serta meminimalisir potensi bencana susulan akibat cuaca ekstrem di Ibu Kota.
Selain OMC, Pemprov DKI juga menyiapkan langkah mitigasi menghadapi kemarau panjang, terutama terkait ketersediaan air bersih dan pencegahan kebakaran.
Pramono menginstruksikan seluruh pemerintah kota di Jakarta untuk mengampanyekan gerakan “Jaga Jakarta”, yang fokus pada dua hal: pencegahan kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan. Ia juga meminta setiap rukun warga (RW) menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai antisipasi dini.
“Saya minta setiap RW persiapan APAR dari sekarang karena suasananya kering dan kemungkinan akan terjadi ISPA,” ucapnya.









