Koma.id | Jakarta – Pemerintah Indonesia berencana menerbitkan surat utang dalam mata uang yuan atau Panda Bond di pasar China sebagai strategi memperkuat nilai tukar rupiah yang tengah tertekan dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut langkah ini sebagai bagian dari diversifikasi pembiayaan negara agar tidak bergantung pada dolar.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam bentuk Panda Bond di China,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Selasa (05/05) malam.
Menurut Purbaya, penerbitan Panda Bond lebih menguntungkan karena bunga yang ditawarkan di pasar China relatif lebih rendah.
“Sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Diversifikasi kita akan lebih baik ke depan, prospek kita bagus,” tambahnya.
Langkah ini diambil di tengah pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.400 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) pun memperketat pengawasan transaksi valuta asing dengan menurunkan ambang batas pembelian dolar yang wajib disertai dokumen pendukung. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan kebijakan ini bertujuan meredam aktivitas spekulatif dan menjaga kedaulatan rupiah.
Selain itu, BI juga memperkuat intervensi pasar melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memastikan aliran modal asing tetap masuk.
“Kami bersepakat SRBI dibuat perlu inflow sehingga bisa mencukupi outflow SBN dan saham,” kata Perry.
Purbaya menambahkan, penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi besar menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang kini mencapai 5,61 persen. Pemerintah juga menyiapkan stimulus tambahan yang akan diumumkan pada Juni 2026 untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan diversifikasi pembiayaan dan penguatan kebijakan moneter, pemerintah berharap rupiah tetap stabil di tengah gejolak global, sekaligus menjaga kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.









