Koma.id- Ketegangan global akibat kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus menuai kecaman. Salah satunya datang dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Andalas, Prof. Syafruddin Karimi, yang menyuarakan kegelisahan atas dampak luas yang ditimbulkan kebijakan tersebut.
Menurutnya, dunia saat ini seakan diperintah oleh kehendak sepihak Trump. Pasalnya banyak negara justru terjebak dalam posisi tawar yang lemah, bahkan harus “mengemis” agar diberi keringanan tarif oleh Presiden AS tersebut.
Kebijakan Trump, kata Syafruddin, berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi domestik Indonesia. Bahkan, ia membandingkan situasi ini dengan krisis besar 1998. Bedanya, jika krisis 1998 dipicu oleh keruntuhan sistem moneter dan pelarian modal asing, maka krisis hari ini disebutnya sebagai krisis kepercayaan terhadap tatanan ekonomi global yang selama ini dianggap adil dan terbuka.
Ia melihat dunia tengah bergerak ke arah disrupsi ekonomi berbasis tekanan politik, yang jika dibiarkan, bisa menimbulkan ketimpangan global jangka panjang.
Namun, tidak semua pihak sependapat dengan pandangan tersebut. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, justru melihat dampak kebijakan tarif AS terhadap Indonesia tidak terlalu signifikan. Sebab tarif hingga 32% itu pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional relatif kecil.








