Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaNasionalRagam

Menghadapi El Niño, Pemerintah Intensifkan Hujan Buatan Isi Waduk

×

Menghadapi El Niño, Pemerintah Intensifkan Hujan Buatan Isi Waduk

Sebarkan artikel ini
Tanah Kering

Koma.id | Jakarta – Pemerintah melalui BMKG menyiapkan hujan buatan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengisi waduk dan danau sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño. BMKG memprediksi El Niño akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dengan intensitas melebihi kategori kuat, diperparah oleh peluang aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September–Desember 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut OMC dilakukan di wilayah prioritas untuk menjaga ketersediaan air.

Silakan gulirkan ke bawah

“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu,” ujarnya.

BMKG telah menyelesaikan tiga operasi pengisian waduk di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah. Ke depan, OMC akan menyasar empat lokasi strategis: Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menambahkan, saat ini OMC tengah dioperasikan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan Kementerian Kehutanan serta BNPB.

“Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi,” katanya.

Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai efektivitas OMC bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan.

“OMC bukan menciptakan hujan dari udara kosong, melainkan mempercepat presipitasi dari awan yang sudah tersedia,” ujarnya.

Tambahan curah hujan dari cloud seeding, menurut kajian, berada di kisaran 5–20% dalam kondisi mendukung.

Namun, Yusuf menekankan perlunya menghitung dampak ekonomi. “Manfaatnya perlu dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, terutama jika kekeringan berlangsung lama dan awan semakin jarang,” katanya.

Peneliti Indef Afaqa Hudaya senada, menyebut OMC hanya instrumen kontingensi. “Pemerintah perlu memastikan operasi dilakukan saat kondisi atmosfer mendukung dan memberikan tambahan air yang secara ekonomi layak dibandingkan biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.

Afaqa menekankan OMC tidak cukup menjadi satu-satunya strategi menghadapi kekeringan. Pemerintah perlu memperkuat konservasi daerah tangkapan air, efisiensi penggunaan air di sektor pertanian dan industri, serta optimalisasi waduk dan embung. “OMC sebaiknya dipandang sebagai instrumen untuk membeli waktu ketika risiko kekeringan meningkat, bukan pengganti pembangunan ketahanan air,” tegasnya.

Fakta Utama

  • Fenomena: El Niño kuat hingga awal 2027, berpotensi diperparah IOD Positif.
  • Langkah BMKG: OMC di waduk dan DAS prioritas.
  • Efektivitas: Tambahan curah hujan 5–20%, bergantung kondisi atmosfer.
  • Biaya: Operasi berulang dengan pesawat, bahan semai, personel.
  • Strategi: OMC sebagai antisipasi jangka pendek, konservasi DAS dan efisiensi air tetap utama.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.