KOMA.ID, JAKARTA – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid menilai bahwa penggalangan isu tentang dugaan ijazah palsu Joko Widodo (Jokowi) adalah bentuk frustasi kolektif kelompok pembenci.
Sebab menurutnya, isu tersebut muncul sejak pertengahan era kepemimpinan Jokowi di periode kedua hingga sampai saat ini tak kunjung mendapatkan hasil yang menggembirakan bagi mereka.
Survei Poltracking Tunjukkan Bantuan Pemerintah dan MBG Picu Kepuasan Publik pada Prabowo-Gibran
“Saya kira itu isu yang sengaja dimainkan untuk sekadar menggulung Pak Jokowi, tapi faktanya sampai sekarang bertahun-tahun tak cukup menggembirakan buat mereka. Makanya mereka seperti kelompok yang sudah frustasi,” kata Habib Syakur kepada wartawan, Sabtu (12/4/2025).
Ulama asal Malang Raya ini berpendapat bahwa penggunaan isu dugaan ijazah palsu memang menjadi satu-satunya alat yang bisa mereka terus mainkan. Sebab kata Habib Syakur, kelompok tersebut memang tak dapat menemukan celah yang baik untuk menyeret Jokowi dalam isu korupsi.
“Mainkan isu korupsi ternyata mereka nggak bisa buktiin, akhirnya anyep. Tapi yang paling mungkin kan ijazah, itu saja yang digoreng sampai gosong masih nggak diangkat-angkat,” ujarnya.
Guru Besar Apresiasi Penguatan Pendidikan Era Prabowo-Gibran, Tekankan Mutu dan Akses yang Merata
Lebih lanjut, sikap dian Jokowi selama ini terkait kabar tudingan ijazah palsu dianggap sebagai langkah tepat. Sebab ketika Jokowi terpancing dengan isu tersebut, maka kelompok pembenci akan merasa mendapatkan gayung bersambut.
“Cuek adalah langkah bagus, ilmu politik jawa benar-benar dimainkan Pak Jokowi. Nggak gampang terpancing, anjing menggonggong kafilah berlalu,” tukasnya.














