Koma.id | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat pesisir untuk mewaspadai potensi banjir rob bersamaan dengan munculnya fenomena astronomi Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu yang diprediksi menyentuh langit Indonesia pada Senin, 26 Oktober 2026.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang berada dalam satu garis lurus saat fase bulan purnama akan memperkuat gaya gravitasi gabungan dan memicu pasang air laut maksimum (pasang purnama).
“Masyarakat pesisir perlu memperhatikan cuaca maritim, prakiraan pasang surut, serta peringatan dini dari BMKG dan pemerintah daerah setempat untuk mengantisipasi potensi kenaikan permukaan laut, ” ujar Ayu di Jakarta.
Secara fisik, Hunter’s Moon tidak memiliki perbedaan dengan bulan purnama pada umumnya. Penamaan tradisional ini Merujuk pada tradisi suku Algonquian di Amerika Utara serta pemukim Eropa untuk menandai momentum perburuan persediaan makanan sebelum masuknya musim dingin setelah masa panen raya (Harvest Moon).
Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya,Bulan mulai terbit dari arah timur pukul 17.53 WIB,mencapai titik tertinggi pada pukul 23.58 WIB,dan terbenam keesokan harinya pukul 05.10 WIB.
Narasraya Literasi 2026 Ajak Generasi Muda Cakap Membaca Diri Demi Bekal Indonesia Emas 2045
BMKG Menyebutkan waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah mulai pukul 20.00 WIB,saat posisi Bulan sudah cukup tinggi di atas garis horizon dan minim terhalang gedung-gedung tinggi.Fenomena ini dapat disaksikan secara aman dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus jika kondisi cuaca cerah.
BMKG menegaskan bahwa fenomena Hunter’s Moon hanya berdampak pada fenomena pasang surut air laut dan tidak berhubungan langsung dengan peningkatan intensitas hujan lebat maupun banjir di wilayah daratan/sungai.
Hujan ekstrem dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, sedangkan banjir darat dipengaruhi oleh curah hujan di wilayah hulu serta daya tampung daerah aliran sungai (DAS).
Masyarakat diimbau untuk terus memasyarakatkan pembaruan informasi cuaca resmi dari BMKG dan tidak terjadi kejadian cuaca ekstrem semata-mata dengan fenomena bulan purnama.









