Koma.id– Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyerukan perlunya membangun PBB 2.0 karena tantangan global kini semakin kompleks, dengan konflik yang saling berkaitan dan dampaknya melintasi batas negara.
Dalam Penang Peace Dialogue di Malaysia, Jokowi menilai dunia membutuhkan lembaga, mediasi, dan diplomasi global yang lebih kuat agar mampu menjaga perdamaian, sehingga PBB perlu memperbarui sistem, proses, dan strateginya agar lebih relevan.
Ditpolairud dan Basarnas Kerahkan KN Tetuka Cari 5 Wartawan Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau
“Kita membutuhkan lembaga global yang lebih kuat, mediasi global yang lebih kuat, dan diplomasi global yang lebih kuat untuk menjaga perdamaian. Sekarang, kita harus bergerak melampaui Perserikatan Bangsa-Bangsa edisi lama dan membangun edisi baru, Perserikatan Bangsa-Bangsa 2.0 yang baru,” kata Jokowi.
Ia menekankan bahwa kemakmuran berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui perdamaian, kerja sama, dan kolaborasi. Jokowi juga menyoroti Asia Tenggara sebagai contoh keberagaman yang mampu hidup berdampingan dan menjadi model kolaborasi antarperadaban di tengah dunia multipolar.
Menurutnya, negara maju tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan ekonomi, teknologi, dan politik, tetapi harus menunjukkan tanggung jawab serta membantu membangun kepercayaan, stabilitas, dan kemakmuran bersama.
“Negara-negara maju tidak boleh hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka harus memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk membangun kepercayaan, memperkuat kerja sama, dan membantu menciptakan dunia yang lebih damai,” ujar Jokowi.








