Koma.id, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, berencana melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Lampung untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan jajaran kru serta talent film toleransi “Ageman”.
Rencana tersebut disampaikan Eddy Hartono melalui sambungan telepon sebagai bentuk dukungan penuh terhadap industri kreatif lokal yang berani mengangkat isu pencegahan radikalisme dan intoleransi.
Menurut Eddy, pemanfaatan media film sebagai sarana edukasi publik merupakan langkah strategis yang sangat efektif ketimbang sekadar kegiatan seremonial seperti seminar.
“Pemanfaatan media film bertema toleransi Ageman ini sangat selaras dengan strategi BNPT dalam menjalankan fungsi kontra-radikalisasi.
Film menjadi media komunikasi yang persuasif untuk menyampaikan pesan perdamaian dan kebhinekaan dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ujar Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, Senin (24/8/2026).
Eddy menambahkan, daya tarik utama film Ageman terletak pada alur cerita yang diangkat dari pengalaman hidup nyata Ken Setiawan, mantan anggota jaringan radikal yang kini menjabat sebagai Kabid Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung.
Proses transformasi Ken Setiawan yang kini aktif mengampanyekan wawasan kebangsaan dinilai mampu memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya pemikiran kritis dan kesadaran diri.
“Transformasi Ken Setiawan dari paham ekstrem menjadi moderat membuktikan bahwa pemahaman radikal dapat diubah melalui kesadaran diri, dialog terbuka, serta lingkungan sosial yang positif,” tambahnya.
Sementara itu, Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Lampung, Dr. M. Firsada, menyambut positif rencana kedatangan Kepala BNPT RI beserta jajaran ke Bumi Ruwa Jurai.
Pihaknya menegaskan bahwa pembuatan film ini merupakan pendekatan pentahelix yang efektif untuk merangkul generasi muda agar terhindar dari paparan paham radikal dan terorisme.
“Film Ageman adalah cara efektif untuk mengisi ruang kosong anak-anak muda lewat pesan kebangsaan.
Harapannya, film ini dapat ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk mengumandangkan toleransi serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman,” pungkas Firsada.














