Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaEkonomiNasional

Blackout Indonesia Disebut Momentum Evaluasi Energi

Views
×

Blackout Indonesia Disebut Momentum Evaluasi Energi

Sebarkan artikel ini
Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria

Koma.id | Jakarta – Pengamat kebijakan energi Sofyano Zakaria menilai peristiwa blackout listrik massal yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia harus dijadikan momentum evaluasi besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional. Ia menegaskan, blackout tidak boleh hanya dianggap sebagai gangguan teknis biasa, melainkan tanda lemahnya keandalan sistem interkoneksi listrik.

Dalam catatan global, blackout pernah melanda negara-negara besar seperti India pada Juli 2012 yang berdampak pada 600 juta penduduk, Northeast Blackout di Amerika Serikat dan Kanada pada 2003, Italia pada 2003, Turki pada 2015, Argentina pada 2019, hingga Pakistan pada 2023. Indonesia sendiri mengalami blackout besar di sistem Jawa–Bali pada Agustus 2019 dan terbaru di Sumatra pada Mei 2026.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurut Sofyano, sistem interkoneksi listrik memiliki kerentanan tinggi jika tidak didukung jaringan transmisi yang kuat, sistem proteksi modern, dan cadangan daya memadai.

“Pemerintah dan PLN sebaiknya tidak hanya fokus membangun pembangkit listrik semata. Yang sama pentingnya adalah memperkuat jaringan transmisi, gardu induk, sistem proteksi digital, serta teknologi pengendali beban agar sistem kelistrikan nasional lebih tangguh menghadapi gangguan,” ujarnya.

Ia menyoroti pembangunan sektor listrik selama ini lebih menitikberatkan pada penambahan kapasitas pembangkit, sementara modernisasi transmisi belum berjalan seimbang. Padahal, transmisi adalah tulang punggung utama stabilitas distribusi listrik nasional.

Terkait tuntutan ganti rugi akibat blackout, Sofyano menjelaskan terdapat kondisi force majeure yang bisa menjadi alasan pengecualian tanggung jawab operator listrik, misalnya jika gangguan disebabkan bencana alam atau cuaca ekstrem. Namun, jika investigasi menemukan kelalaian pemeliharaan jaringan atau lemahnya sistem proteksi, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai kelalaian operator.

Ia menekankan perlunya percepatan modernisasi sistem kelistrikan nasional melalui pembangunan smart grid, penguatan transmisi antarwilayah, predictive maintenance, serta sistem early warning berbasis digital. Audit berkala terhadap keandalan sistem interkoneksi juga harus dilakukan secara transparan.

“Ketahanan energi tidak cukup hanya diukur dari kapasitas pembangkit. Ketahanan energi juga ditentukan oleh seberapa kuat sistem transmisi dan distribusi mampu menjaga pasokan listrik tetap stabil dalam kondisi apa pun,” tutup Sofyano.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.