Jakarta – Selama ini RT identik dengan urusan keamanan lingkungan, ronda malam, hingga penanganan persoalan administrasi warga. Namun, di RT 11 RW 07 Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, konsep tersebut sedang berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih luas: membangun ekosistem lingkungan cerdas yang mengintegrasikan keamanan, teknologi, keberlanjutan lingkungan, hingga ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Imam Basori, Ketua RT 11 RW 07 Gandaria Utara, memperkenalkan inovasi terbaru bernama KOMA (Komposter Mandiri), sebuah mesin pengolah sampah organik rumah tangga yang mampu mengubah sisa makanan, sayuran, buah, dan limbah dapur menjadi kompos bernilai guna.
Menurut pria yang akrab disapa Ibas, KOMA bukan sekadar mesin kompos, melainkan bagian dari visi besar “SMART GREEN SAFE VILLAGE 5.0 – From Security to Sustainability”, sebuah konsep yang menempatkan RT sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk menunjukkan bahwa keamanan, teknologi, lingkungan, dan kesejahteraan warga dapat berjalan beriringan.
“Selama ini orang mengenal RT 11 karena inovasi keamanan. Kini kami ingin melangkah ke inovasi selanjutnya. Karena pondasi utama adalah aman dulu, baru nyaman, selanjutnya ke inovasi lainnya. Kami ingin menunjukkan bahwa keamanan harus berjalan bersama keberlanjutan lingkungan. Masa depan kampung bukan hanya bebas kriminalitas, tetapi juga bebas sampah, hemat energi, tangguh menghadapi perubahan iklim, dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga,” ujar Imam Basori.
KOMA, Generasi Baru Pengolah Sampah Organik
KOMA merupakan kelanjutan dari berbagai inovasi lingkungan yang telah lebih dahulu dikembangkan RT 11, yaitu Komling (Kompos Keliling) dan Smart Geprek, alat penghancur sampah yang membantu proses pengelolaan limbah rumah tangga.
Berbeda dari inovasi sebelumnya, KOMA dirancang dengan kapasitas penampungan sampah organik hingga 100 kilogram, sehingga mampu melayani kebutuhan pengolahan sampah dalam skala komunitas.
Sampah dapur rumah tangga seperti sisa nasi, sayuran, kulit buah, hingga limbah organik lainnya diproses menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan untuk penghijauan lingkungan, urban farming, hingga mendukung ketahanan pangan warga.
Dari Sampah Menjadi Ketahanan Pangan
Dalam konsep Smart Green Safe Village 5.0, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya.
Alur pengelolaannya dirancang menjadi sebuah siklus ekonomi sirkular:
Sampah Rumah Tangga → Smart Geprek → Pemilahan → KOMA (Komposter Mandiri) → Kompos → Urban Farming → Panen → Ketahanan Pangan → Peningkatan Pendapatan Warga.
Konsep ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya agar menghasilkan nilai tambah sekaligus mengurangi timbulan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Tidak Lagi Hanya Bicara Keamanan
Sebelumnya, RT 11 dikenal melalui berbagai inovasi keamanan berbasis teknologi seperti: e-Gate 11 berbasis RFID, GPS kendaraan warga, CCTV, Alarm Panic Button, Si Jaga Warga, Patrolink.
Ke depan, sistem tersebut akan dievaluasi dan dikembangkan supaya semakin aman lingkungan.
Namun, menurut Ibas, keamanan hanyalah salah satu pilar dari konsep besar yang sedang dibangun.
“Kami ingin menghadirkan lingkungan yang aman, sehat, hemat energi, rendah emisi, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Keamanan tetap penting, tetapi keberlanjutan adalah masa depan,” katanya.
Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Konsep Smart Green Safe Village 5.0 dirancang untuk mendukung berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
SDG 11 – Kota dan Permukiman Berkelanjutan.
SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim.
SDG 15 – Ekosistem Daratan.
SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Ibas menilai bahwa kekuatan utama konsep ini bukan hanya pada penggunaan teknologi, melainkan karena seluruh inovasi lahir dari tingkat RT dan digerakkan oleh partisipasi masyarakat.
Model berbasis komunitas seperti ini dinilai memiliki peluang untuk direplikasi di ribuan lingkungan permukiman di Indonesia maupun di negara lain yang menghadapi tantangan serupa terkait pengelolaan sampah, perubahan iklim, dan ketahanan komunitas.
Bagi Imam Basori, tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan kompos atau menciptakan lingkungan yang lebih aman.
“Kami ingin membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tingkat RT. Jika satu lingkungan mampu mengelola sampahnya sendiri, memanfaatkan teknologi, menjaga keamanan, memperkuat ketahanan pangan, dan membangun budaya gotong royong, maka model ini dapat direplikasi di mana saja. Harapan kami, RT 11 RW 07 Gandaria Utara tidak hanya dikenal sebagai kampung yang aman, tetapi juga menjadi contoh bagaimana komunitas lokal dapat berkontribusi terhadap solusi global untuk perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan,” paparnya.
Melalui inovasi KOMA (Komposter Mandiri) sebagai bagian dari ekosistem Smart Green Safe Village 5.0, RT 11 RW 07 Gandaria Utara menempatkan dirinya bukan hanya sebagai lingkungan permukiman, tetapi sebagai living laboratory yang menunjukkan bahwa transformasi menuju kota berkelanjutan dapat dimulai dari unit pemerintahan terkecil: sebuah RT.









