Koma.id | Lampung – Prosesi penganugerahan gelar adat kehormatan kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Lampung, memicu perdebatan luas setelah momen dirinya menginjak kepala kerbau beredar di media sosial.
Gelar Baginda Pemuka Bangsa diberikan oleh lima kerajaan adat Lampung dalam prosesi sakral di Rumah Adat Kedatun Keagungan, Kota Bandarlampung.
Jokowi hadir mengenakan busana adat Lampung lengkap dan disambut dengan tradisi Nemui Nyimah, sebelum acara inti berlangsung di Gedung Pusiban.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Guntur Romli, menilai tindakan Jokowi menginjak kepala kerbau menimbulkan pertanyaan etis.
“Biasanya hewan kurban itu dihormati, bukan diinjak. Sikap Jokowi itu bentuk kesombongan. Tapi biarlah rakyat yang menilai,” ujar Guntur, Minggu (28/06).
Guntur juga menegaskan bahwa prosesi tersebut tidak ada kaitannya dengan lambang PDI Perjuangan.
“Logo PDIP itu banteng, bukan kerbau atau sapi,” tegasnya.
Di sisi lain, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai ritual itu harus dipahami dari sudut pandang adat Lampung. Menurutnya, kepala dan tanduk kerbau memiliki makna sakral sebagai simbol kemakmuran, kekuatan, dan penghormatan kepada leluhur.
“Menginjak kepala kerbau bermakna membuang sifat buruk, lambang kerendahan hati, serta kesiapan pemimpin baru untuk mengayomi masyarakat,” jelas Jamiluddin.
Ia menepis spekulasi bahwa prosesi tersebut berkaitan dengan hubungan politik Jokowi dan PDIP.
Hingga kini, pihak penyelenggara adat belum memberikan keterangan resmi mengenai filosofi ritual tersebut.
Jokowi sendiri hanya menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diberikan. “Saya sangat menghargai dan menghormati kebudayaan yang terus kita rawat bersama,” kata Jokowi dalam sambutannya.
Momen injak kepala kerbau ini pun terus menjadi bahan perbincangan publik, dengan tafsir beragam antara simbol adat dan gestur politik.








