Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaNasional

PASBATA Bongkar Dugaan “Markas Opini Hoax” di Balik Serangan Masif ke Gubernur Jateng

Views
×

PASBATA Bongkar Dugaan “Markas Opini Hoax” di Balik Serangan Masif ke Gubernur Jateng

Sebarkan artikel ini
PASBATA Bongkar Dugaan “Markas Opini Hoax” di Balik Serangan Masif ke Gubernur Jateng

Koma.id – Sekjen PASBATA Budiyanto Hadinagoro, menilai sejumlah narasi provokatif dan hoax yang dibangun di media sosial menyerang kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi–Gus Yasin, tidak lahir secara spontan. Ia menyebut, pola serangan yang terus berulang menunjukkan adanya kelompok tertentu yang secara konsisten membangun framing negatif.

“kita sudah mendeksi dan mengetahui siapa2 yang terus menyerang, afiliasinya ke mana, dan dari mana markas gerakan opini ini dimainkan. Polanya sama, isu dihembuskan, dipelintir, lalu diviralkan,” ujar Budiyanto, Minggu (22/2/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Budiyanto menekankan para pelaku sengaja menciptakan persepsi bahwa kepemimpinan di Jawa Tengah tidak berjalan efektif. Padahal, secara faktual, berbagai program pemerintahan tetap berjalan sesuai rencana, mulai dari sektor pelayanan publik, penguatan ekonomi daerah, hingga stabilitas sosial.

“Selalu ada upaya membangun opini seolah-olah tidak ada kerja nyata. Ini bukan kritik konstruktif, tetapi lebih pada propaganda,” tegasnya.

Budiyanto menambahkan bahwa selama satu tahun menjabat, gubernur telah bekerja maksimal meskipun tidak semua kinerja terekspos media. Pasalnya gaya kepemimpinan Ahmad Luthfi sebagai tipe pemimpin substansial yang lebih fokus pada kerja nyata ketimbang pencitraan.

“Kinerja tidak bisa dinilai hanya dari satu peristiwa atau satu isu yang sedang ramai. Harus dilihat secara makro. Infrastruktur misalnya, tidak semua jalan adalah kewenangan provinsi. Ada jalan nasional yang dibiayai APBN, ada jalan kabupaten/kota, dan ada jalan milik provinsi. Jadi tidak bisa serta-merta semua ditimpakan pada gubernur,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam dinamika politik, perbedaan pilihan adalah hal wajar. Namun setelah kontestasi selesai, seluruh elemen masyarakat seharusnya kembali bersatu mendukung pemerintahan yang sah, sembari tetap memberi kritik yang konstruktif.

Pasalnya, dalam situasi apa pun, seorang pemimpin pasti akan menghadapi kritik. Bahkan, menurutnya, jika yang memimpin adalah sosok seideal apa pun, tetap akan ada pihak yang menyerang bila bukan figur yang mereka dukung.

“Di bulan Ramadan seharusnya kita lebih banyak beribadah dan bertafakur, bukan justru menyebarkan narasi pemecah belah. Pergerakan yang baik adalah yang membangun, bukan yang memperkeruh suasana,” tutup Budiyanto.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.