Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Berita

75 Ribu Balita Kena ISPA Gegara Asap Karhutla

×

75 Ribu Balita Kena ISPA Gegara Asap Karhutla

Sebarkan artikel ini
75 Ribu Balita Kena ISPA Gegara Asap Karhutla
Viral orang tua bawa bayi 2 bulan kebioskop dikasih obat tidur

Koma.id– Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 75.172 balita berusia 0–5 tahun mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tingginya angka kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah di tengah ancaman pencemaran udara akibat asap kebakaran yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, jumlah kumulatif kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470 kasus sejak 18 Agustus 2026. Dari total tersebut, sebanyak 75.172 kasus dialami balita, sementara 258.298 kasus lainnya terjadi pada penduduk berusia di atas lima tahun.

Silakan gulirkan ke bawah

Kasus ISPA tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota yang berada di tujuh provinsi terdampak karhutla. Sebaran kasus ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan serius.

Paparan asap karhutla dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki kerentanan terhadap penyakit. Balita menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena kondisi tubuhnya lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan perlindungan terhadap kelompok rentan dan membatasi masuknya asap ke dalam rumah.

“Kami harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,” ujar Suyanti dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2026).

Menurut Kemenkes, upaya pencegahan perlu dilakukan secara konsisten, terutama di daerah yang mengalami penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran. Masyarakat diminta menyesuaikan kegiatan sehari-hari dengan kondisi udara agar risiko gangguan kesehatan dapat ditekan.

Salah satu langkah yang dianjurkan adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kualitas udara memburuk. Warga yang harus melakukan kegiatan di luar rumah disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel asap yang dapat terhirup.

Selain itu, masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air putih serta menjaga kondisi lingkungan tempat tinggal agar paparan asap dapat diminimalkan. Warga juga diminta memastikan asap tidak mudah masuk ke dalam rumah, sehingga anggota keluarga, terutama balita dan lansia, memperoleh perlindungan yang lebih baik.

Kemenkes turut mendorong masyarakat memantau perkembangan kualitas udara melalui ISPUnet yang terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan aktivitas yang aman sesuai kondisi udara di lingkungan masing-masing.

Pemantauan kualitas udara dinilai penting karena kondisi pencemaran dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran dan arah pergerakan asap. Dengan memperoleh informasi terkini, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan lebih awal sebelum mengalami gangguan kesehatan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.